Revaluasi Yuan Berdampak Positif pada Ekspor Indonesia
Senin, 25 Jul 2005 16:01 WIB
Jakarta -
Revaluasi mata uang yuan Cina memancing beraneka ragam tanggapan. Salah satu yang menilainya positif adalah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Menurutnya, revaluasi yuan dalam jangka pendek akan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia."Tapi ini memang apresiasinya hanya kecil. Tentunya kita bisa bersaing. Namun dalam ekspor pertimbangannya bukan hanya nilai tukar, tapi hal lainnya juga berperan," kata Mari Pangestu usai bertemu Perdana Menteri (PM) Hongaria Ferenc Gyurcsani di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (25/7/2005).Cina, pada Kamis 21 Juli 2005 waktu setempat, secara resmi memutuskan untuk merevaluasi mata uangnya yang sudah berlaku hampir satu dekade lamanya di level 8,28 per dolar AS. Yuan akhirnya diperkuat 2,1 persen menjadi 8,11 per dolar AS. Negara-negara maju yang tergabung dalam G7 menyambut baik revaluasi yuan. Keputusan Cina itu dinilai bisa membantu menstabilkan perekonomian dunia. Selama dua tahun terakhir, G7 selalu mengkampanyekan revaluasi yuan.Revaluasi yuan pun disambut dengan antusias oleh kalangan industri di Indonesia, mengingat selama ini Cina merupakan pesaing utama, terutama di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT).
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































