Krisis Listrik Mengancam Lagi

Masuk Musim Kemarau

Krisis Listrik Mengancam Lagi

- detikFinance
Selasa, 26 Jul 2005 15:15 WIB
Jakarta - Memasuki musim kemarau pada Bulan Oktober, krisis listrik kembali mengancam. Untuk itu PLN kembali menyerukan gerakan penghematan listrik.Pada Bulan Oktober bertepatan dengan musim kemarau, PLN memperkirakan beban puncak listrik meningkat menjadi 15.245 megawatt, dengan marjin cadangan 28,7 persen. Padahal normalnya beban listrik hanya 14.920 megawatt, dengan marjin cadangan 31 persen."Maka akan kita genjot penghematan listrik agar tidak terjadi muncul beban puncak," Dirut PLN Eddie Widiono di sela-sela ekspose sekuriti sistem Jawa-Bali di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Selasa (26/7/2005).Hal senada disampaikan General Manager Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa-Bali (P3B) PLN Bali Muldjo Adji. Muldjo menyatakan, pada Bulan Oktober akan kembali terjadi krisis listrik. Menurut Muldjo, kenaikan naiknya beban pemakaian listrik pada musim kemarau terutama dipicu peningkatan pemakaian AC. Muldjo memperkirakan, cadangan listrik pada saat itu hanya sekitar 120 megawatt, sedangkan amannya minimal 600 MW. "Ini berarti masuk kondisi kritis," tegasnya.Ditambahkannya, musim kemarau juga akan menyebabkan gangguan pada PLTA karena air di waduk bisa turun 50 hingga 60 persen. Padahal komponen air sangat penting bagi PLTA yakni mencapai 10 persen dari kebutuhen energi PLN. "Jadi pemakaian BBM akan meningkat 5 persen," tambah Muldjo. Beberapa PLTA yang akan mengalami gangguan antara lain PLTA Saguling yang memiliki 4 pembangkit dengan kapasitas 175 megawatt, PLTA Cirata dengan delapan pembangkit dengan kapasitas masing-masing 125 megawatt. PLTA lainnya yang mengalami gangguan adalah PLTA Jatiluhur yang memiliki 6 pembangkit dengan kapasitas masing-masing 25 megawatt. "Jadi keseluruhan ada 1.850 megawatt. Kalau air turun tinggal 500 megawatt," ujarnya.Untuk mengantisipasi krisis listrik saat musim kemarau, Muldjo menyatakan tidak ada antisipasi khusus. "Namun kami sudah mengantisipasi dengan mempersiapkan pembangkit termal," ujarnya.Kepala Stasiun Klimatologi Dermaga Jawa Barat BMG Widyastuti mengatakan, kemarau sebenarnya sudah dimulai awal Mei dan dipastikan mulai Agustus akan mengalami kekeringan. Namun menurut Widyastuti, kemarau kali ini dikategorikan kemarau basah karena hujan kecil-kecil. BBM Untuk PLNMuldjo juga menyampaikan, permintaan BBM PLN per tahun mencapai 11 juta kilo liter, dan hingga saat ini sudah terealisasi 5,5 juta kiloliter. "Jadi pada Oktober, kita akan hitung-hitungan penambahan BBM-nya karena kuota tinggal 8,5 juta kilo liter," kata Muljo. Untuk menjamin pasokan BBM Pertamina, PLN sudah melakukan koordinasi dengan Pertamina. "Kita maunya tiap tangki dapat full terus sehingga ada cadangan 10 hari," ujarnya.Sementara Eddie Widiono mengatakan, pada tahun 2005 kebutuhan BBM PLN berkisar 30 persen dari kebutuhan BBM nasional. Dengan selesainya pembangkit baru akan mengurangi penggunaan BBM menjadi hanya 22 persen. Untuk tahun 2006, menurut Eddie terdapat cadangan listrik terkecil hingga 114 megawatt. "Jadi cadangan listrik tahun 2006 aman," ujarnya. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads