Follow detikFinance
Selasa, 17 Jul 2018 21:07 WIB

Kepala Bappenas: Orang Lebih Care Rokok Daripada Punya Rumah

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: dok. Bappenas Foto: dok. Bappenas
Jakarta - Pemerintah berhasil menurunkan angka kemiskinan pada titik terendah pada Maret 2018. Tercatat, angka kemiskinan menjadi 9,82%.

Meski begitu, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah yakni mengendalikan inflasi lantaran berkontribusi pada angka kemiskinan. Terutama, pada komoditas yang berkontribusi pada pengeluaran penduduk miskin.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas mengatakan, sejumlah komoditas memberikan andil besar di wilayah pedesaan. Pertama ialah komoditas beras.

"Beras sampai 27%. Intinya beras nggak boleh naik, karena sekali naik pengaruh 27%," ujar dia di kantornya, Senin (17/7/2018).



Kemudian, disumbang komoditas lain seperti sayuran dan buah-buahan. Lalu, rokok kretek filter memberikan konstribusi mencapai 10,21%. Dengan angka itu, maka kenaikan harga rokok langsung berimbas pada kemiskinan.

"Tapi bukan berarti solusinya 'jangan naikkan harga rokok', nggak boleh. Argumennya nggak boleh naik karena pengaruh inflasi kemiskinan. Justru porsi rokok yang dikurangi," ujarnya.

Porsi tersebut lebih tinggi dibanding perumahan. Di mana, dalam catatan BPS perumahan berkontribusi sebanyak 6,91% di pedesaan.

"Dia (rokok) lebih tinggi dari perumahan, bayangkan orang lebih care rokok daripada punya rumah, jadi kamu lebih senang kena hujan daripada nggak rokok," ujarnya.

Bambang menyebut, komoditas lain yang berpengaruh antara lain bensin, telur ayam, gula pasir, mie instan, hingga daging ayam ras."Ini penyebabnya, satu harus pengendalian inflasi," tutup Bambang.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed