Harga Pangan Normal, Kementan: Ini Hasil Jaga Ketersediaan Stok

Harga Pangan Normal, Kementan: Ini Hasil Jaga Ketersediaan Stok

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Jumat, 03 Agu 2018 13:20 WIB
Harga Pangan Normal, Kementan: Ini Hasil Jaga Ketersediaan Stok
Foto: Erliana Riady
Jakarta - Berdasarkan data BPS indeks harga konsumen atau inflasi pada Juli 2018 sebesar 0,28% secara bulanan (month to month) atau 3,18% secara tahunan (year on year). Secara tahun kalender (Januari-Juli) inflasi sebesar 2,18%. Angka ini menurun dibandingkan bulan lalu 0,59%.

Kenaikan inflasi bulanan dipicu oleh peningkatan harga yang ditunjukkan kenaikan sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Telur ayam ras diketahui menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi disusul daging ayam ras. Meski demikian, usai Lebaran harga komoditas dikatakan kembali normal.

Turunnya harga komoditas dikatakan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (Kementan) Ketut Kariyasa, karena ketersediaan stoknya terjaga sehingga menahan deflasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini menunjukkan hasil dari upaya Kementan menjaga ketersediaan stok sejumlah pangan, sehingga kestabilan harga terjaga dan inflasi pun terkendali", ungkap Kariyasa dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/8/2018).


Dia menjelaskan, setelah Lebaran Idul Fitri harga telur ayam sempat tinggi hingga menembus Rp 30.000/kg. Disusul harga daging ayam hingga mencapai Rp 40.000/kg. Pihaknya kemudian melakukan operasi pasar (OP) untuk stabilisasi harga.

"19 Juli Menteri Pertanian Amran Sulaiman melepas 100 ton telur dalam OP telur ayam murah dijual seharga Rp 19.500/kg. Kemudian 28 Juli lalu Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan juga menggelar OP daging ayam beku. Keduanya sukses menurunkan harga", kata dia.

Baru-baru ini, Mentan juga melepas 5.600 ton bawang merah untuk diekspor PT Revi Makmur Sentosa dan PT Aman Buana Putera ke beberapa negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Kariyasa menyebut, suksesnya komoditas bawang merah menembus pasar internasional khususnya Asia Tenggara, dimulai sejak pihaknya menggenjot produksi. Ia mengatakan pada 2014 lalu Indonesia masih impor 74.903 ton bawang merah, lalu turun drastis pada 2015 menjadi 17.428 ton. Adapun pada 2016 pemerintah telah menutup keran impor bawang merah.

"Sejak 2017 Indonesia berhasil membalikkan keadaan dengan mulai mengekspor bawang merah ke beberapa negara tetangga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka ekspor bawang merah nasional pada 2017 mencapai 7.750 ton atau naik 93,5% dibandingkan pada 2016 yang hanya 736 ton", jelas Kariyasa.


Sementara itu Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan telur ayam ras dan daging ayam ras menyumbang inflasi dari sisi bahan makanan. Sementara bawang merah, cabai merah, daging sapi dan ikan segar mampu menahan inflasi dan menyumbang deflasi masing-masing 0,01%.

"Itu (telur dan daging ayam) komoditas yang mendorong inflasi dari bahan makanan. Namun bahan makanan juga ada yang mengalami deflasi seperti bawang merah 0,05 persen, cabai merah 0,02 persen, daging sapi dan ikan segar juga menahan inflasi dan menyumbang deflasi masing-masing 0,01%," kata Suhariyanto. (ega/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads