Follow detikFinance
Selasa, 07 Agu 2018 14:28 WIB

China Terbitkan Travel Advisory Terkait Gempa Lombok

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Internet/ebcitizen.com Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta - Gempa berkekuatan 7 skala richter (SR) di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah direspons oleh pemerintah China dengan menerbitkan travel advisory atau peringatan bagi warga negaranya bahwa Lombok tengah terjadi bencana.

Menteri PariwisataArief Yahya mengatakan, penerbitan travel advisory ini merupakan hal yang wajar.

"Umumnya akan terjadi, tetapi spesifik. Contohnya China bukan mengeluarkan travel warning tapi travel advisory, itu khusus untuk Lombok. Kita memahami hal seperti itu karena memang kewajiban suatu negara mengingatkan warganya yang berada di daerah yang terkena bencana," kata Arief di Komplek Istana, Jakarta Pusat, Selasa (7/8/2018).


Dari laporan yang didapatnya, baru China saja yang menerbitkan travel advisory. Sedangkan negara tetangga lainnya belum.

"Sampai tadi pagi baru China yang saya dengar, yang lainnya tidak, dan saya terima kasih terutama Australia Perdana Menterinya langsung berbela sungkawa dan tidak mengeluarkan travel advisory ini membuat hati kita, tidak seorang pun menginginkan terjadinya bencana," ungkap dia.

Mengenai jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang terdampak bencana gempa di Lombok paling banyak berasal dari China, disusul Australia, kemudian Singapura, Malaysia, dan terakhir Eropa.

"Kira-kira distribusinya sama seperti itu," ungkap dia.


Adapun, tiga langkah yang dilakukan Kementerian Pariwisata adalah pertama secara terus menerus memberikan informasi. Kedua, memberikan pelayanan kepada wisatawan dan ketiga, melakukan pemulihan.

Untuk upaya pertama, keterangan resmi Kementerian Pariwisata menjadi acuan bagi semua masyarakat baik lokal maupun internasional. Bahkan, evakuasi para wisatawan akan dialihkan ke tiga lokasi, yakni Bali, Surabaya, dan Jakarta.

"Iya karena mereka kembali, yang dari Bali kembali ke Bali, dari Jakarta ke Jakarta. Selanjutnya melakukan penerbangan ke negara masing-masing," ujar dia.

"Tentu cuma jumlahnya tidak banyak. Kalau saya bulatkan kira-kira 50-60% ke Bali, 20-30% ke Jakarta dan sisanya 10-20% ke Surabaya," tutup dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed