"Jadi sebenarnya ini momentum temporer yang kemungkinan sulit untuk diulang di triwulan (kuartal) berikutnya," kata Ekonom Indef, Eko Listiyanto dalam diskusi di Kantor Indef, Jakarta Selatan, Rabu (8/8/2018).
Yang jadi dasar kenapa pertumbuhan ekonomi hanya bersifat temporer, menurut Eko karena faktor ekspor dan pertumbuhan industri yang melambat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini pun menimbulkan tanda tanya, apakah capaian ini bisa dipertahankan pada kuartal selanjutnya, bahkan hingga akhir tahun dengan kondisi tersebut. Pasalnya konsumsi rumah tangga yang naik ke angka 5,14% terjadi saat eskpor dan investasi masih melempem.
"Padahal sisi konsumsinya meningkat, dan juga yang terjadi kemudian ada paradoks pertumbuhan sektor perdagangan yang 5,6% tidak sebanding dengan industri yang cuma tumbuh 3,97%," paparnya.
Maka bisa diperkirakan sektor konsumsi dan perdagangan yang meningkat ditopang oleh impor. Pasalnya sektor industri manufaktur tak memperlihatkan pertumbuhan yang baik.
"Jadi konsumsi yang naik, perdagangan yang naik itu meminta dari siapa? Pasti dari impor, bukan dari industri dalam negeri. Itu yang kemudian jadi catatan penting," tambahnya.
Jokowi Ingin Inflasi RI 1-2% Seperti Negara Maju, Simak Videonya:












































