Angka pertumbuhan ekonomi yang cukup mentereng ini ternyata tak cukup memberi sentimen positif terhadap rupiah. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kian perkasa dan kini justru telah mencapai angka tertinggi tahun ini di Rp 14.600-an.
Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartaty menjelaskan, hal ini memang tak serta merta memberikan respons positif dari investor. Faktor neraca perdagangan yang masih defisit dan defisit transaksi berjalan dilihat lebih serius oleh investor sebagai kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,27% sendiri lebih banyak didominasi sektor konsumtif daripada sektor produktif. Hal ini membuat target pertumbuhan ekonomi di semester II 2018 diragukan bisa tercapai.
"Nah kalau itu nggak tercapai, maka itu akan jadi referensi capital inflow yang masuk. Nah capital inflow yang masuk itulah yang jadi indikator terjadi pelemahan rupiah atau tidak," katanya.
Sementara pendaftaran Capres/Cawapres yang berlangsung baik dinilai tak cukup kuat memberi sentimen positif yang kuat bagi rupiah. Hal ini bisa dilihat dari IHSG yang merespons positif pertama kalinya Jokowi menjadi Presiden 2014 lalu.
"Kita ingat betul 5 tahun lalu, ketika pendeklarasian Jokowi ini juga rupiah bahkan IHSG langsung dari zona merah ke zona biru. Tetapi ternyata honey moon-nya tidak lama. Kemudian hal yang sama ini bisa terjadi sekarang, sebaliknya pasar justru merespons negatif. Nah pertanyaannya adalah sekarang apakah ini temporary atau berlanjut?" tandasnya.
Saksikan juga video ' Washington-Ankara Memburuk, Pengaruhi Rupiah terhadap Dolar ':
(eds/fdl)











































