Follow detikFinance
Rabu, 15 Agu 2018 23:20 WIB

Neraca Dagang Defisit US$ 2 Miliar, Darmin: Di Luar Perkiraan

Trio Hamdani - detikFinance
Menko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Selfie Miftahul/detikFinance Menko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Selfie Miftahul/detikFinance
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit pada Juli sebesar US$ 2,03 miliar. Defisit ini pun merupakan yang terbesar kedua setelah Juli 2013.

Bagaimana tanggapan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution? Menurut Darmin defisit neraca perdagangan pada Juli ini di luar perkiraan.

Pemerintah pun masih perlu mencari tahu lebih dalam penyebab defisit tersebut.


"Artinya begini kita sendiri memang itu di luar perkiraan banyak orang. Jadi kita memang mencari, mengidentifikasi makin rinci apa saja penyebabnya ini," kata Darmin ditemui usai rapat tertutup dengan pengusaha di The Westin, Jakarta Selatan, Rabu (15/8/2018).

Lanjut Darmin, pemerintah juga mengidentifikasi secara lebih mendetail barang-barang apa saja yang impornya masih tinggi sehingga menyebabkan defisit.


"Dan kita mengidentifikasi semakin detail apa saja sih barangnya, apa aja sih yang kita impor," ujarnya.

Sementara langkah terkini yang bakal dilakukan pemerintah menurunkan defisit melalui kebijakan biodiesel campuran 20% (B20).


"Sehingga untuk saat ini barangkali kita, makanya kebijakannya kalau kalian perhatikan kita itu sebelum kita dapat rincian yang menyeluruh itu adalah kebijakan yang sifatnya B20, gitu, karena kita masih mencari detail dari apa saja, sebenarnya karena itu baru terjadi 6 bulan ini," tambahnya.

Impor melonjak

Sementara itu Impor Indonesia pada Juli 2018 tercatat US$ 18,27 miliar Naik 31,56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara secara bulanan (month to month) impor melonjak 62,17% dibandingkan Juni 2018.

Impor yang masih lebih tinggi dibandingkan ekspor pun menyebabkan defisit neraca perdagangan. Namun menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, jika dilihat pertumbuhan impor dari Mei ke Juli sebenarnya tidak terlalu besar.


"Tapi kalau dihitung impor dari Mei ke Juli langsung kita lupakan yang legokan, Mei ke Juli langsung naiknya cuma 3,5%," kata Darmin

Namun Darmin menyadari, angka tersebut bukan berarti menunjukkan defisit neraca perdagangan sudah lebih baik. Pemerintah masih tetap punya PR mengatasi defisit.

"Walaupun saya tak mengatakan itu sudah bagus karena tetap defisit neraca perdagangan membesar walaupun sudah lambat banget Mei ke Juli," sebutnya.

Adapun yang membuat impor melonjak signifikan dari Juni ke Juli lebih disebabkan adanya libur panjang di Juni. Karenanya impor di Juni turun.

"Bahwa impor bulan Juli meningkat 62%. Seram amat saya bilang. Kalau dia bilang impor non migas saja 71%. Tapi kejadian itu karena dari Mei ke Juni itu impor drop 38%. Kenapa drop 38%, karena libur banyak di Juni, orang nggak ekspor impor ada 2 mingguan kalau nggak salah, sehingga dia drop 38%," tambahnya.


Saksikan juga video ' Mei 2018, Neraca Perdagangan RI Defisit US$ 1,52 Miliar ':

[Gambas:Video 20detik]

(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed