Follow detikFinance
Minggu, 02 Sep 2018 15:01 WIB

Kontainer Masuk Tanjung Priok Sekarang Tak Ada 'Pungutan Liar'

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Sejak kehadiran fasilitas pusat konsolidasi kargo atau Container Freight Station (CFS) pada 20 November 2017 lalu, pelayanan Pelabuhan Tanjung Priok lebih cepat, efisien, transparan, dan tertib.

Hal ini terjadi karena tidak ada lagi pungutan dan biaya tak terduga alias 'pungutan liar' yang harus ditanggung pengguna jasa atau pemilik barang. Oleh karena itu, pebisnis di pelabuhan tersibuk di Indonesia ini mengapresiasi kehadiran fasilitas tersebut.

"Hadirnya CFS di Jakarta yang mungkin akan disebut CFS centre akan memberi manfaat positif secara komersial tidak hanya biaya namun hingga waktu. Khususnya buat kargo impor dengan kontainer berstatus LCL (less container load) via Pelabuhan Priok," ujar Pengamat Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Saut Gurning dalam keterangannya, Minggu (2/9/2018).



Disamping itu, katanya, juga potensinya mengurangi dampak negatif terkait biaya mahal biaya pergudangan dan forwarding, biaya kepabeanan, tingkat kemacetan angkutan darat, dan lamanya proses kepabeanan.

Intinya potensi pengurangan biaya logistik mungkin dapat terealisasi bukan hanya bagi para pemilik barang atau trader di sekitar hinterland Pelabuhan Tanjung Priok.

"Namun juga bagi Indonesia secara umum karena porsi perdagangan ekspor-impor Indonesia secara nilai (value) khususnya kontainer sekitar 65 persen dilewati melalui Pelabuhan Tanjung Priok," paparnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, keuntungan utama yang diharapkan dari tersedianya CFS Centre di Pelabuhan Tanjung Priok secara bisnis adalah terjadinya mekanisme single billing yang mengurangi praktek mendongkrak biaya (multi-billing) lewat berbagai additional charges yg selama ini dilakukan berbagai pelaku usaha. Khususnya untuk komponen biaya pergudangan, penumpukan, forwarding dan biaya kepabeanan khususnya kargo impor lewat kontainer berstatus LCL.

Secara tidak langsung proses single billing ini juga berpotensi mengurangi level dwelling-time dan pada akhirnya biaya logistik barang per satuan kubik-meter (CBM).

"Diharapkan tentunya dengan CFS center ini biaya-biaya pergudangan kontainer impor LCL untuk komponen receiving, deluvering dan mekanis diharap dapat lebih menurun lagi dari angka sekitar Rp 150.000 per CBM. Termasuk untuk layanan kargo barang berbahaya, dangerous goods (DG)," katanya.



CFS merupakan fasilitas penyimpanan kontainer impor berstatus less than container load (LCL) yang masih dalam pengawasan kepabeanan. Keberadaan CFS dimaksudkan untuk memperlancar arus barang dan pengurusan dokumen pelabuhan. Dengan fasilitas tersebut diharapkan biaya impor bisa dipangkas hingga 10%.

Sejauh ini, fasilitas CFS Center di Priok mampu melayani 400-an transaksi (billing) layanan pergudangan untuk kargo impor less than container load (LCL) setiap harinya dengan kecepatan layanan dokumen billing mencapai 2 menit per dokumen. Sebelumnya, layanan dokumen billing di Priok rata-rata 7 menit per dokumen.



Saksikan juga video 'Kontainer Multifungsi untuk Korban Gempa Lombok':

[Gambas:Video 20detik]


Kontainer Masuk Tanjung Priok Sekarang Tak Ada 'Pungutan Liar'
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed