Cetak Rekor Lagi, Inflasi Venezuela Capai 200% Sebulan!

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 06 Sep 2018 12:56 WIB
Foto: Istimewa/Boredpanda
Caracas - Venezuela kembali memecahkan rekor angka inflasi sepanjang bulan Agustus, yakni mencapai 200%.

Capaian rekor inflasi tersebut mencatat inflasi Venezuela sepanjang tahun ini telah naik 200.000% dibandingkan tahun lalu. Demikian disampaikan oleh parlemen yang dikuasai oposisi seperti dikutip dari Straitstimes, Kamis (6/9/2018).

Rekor inflasi sebulan ini memecahkan rekor inflasi satu bulan penuh sebesar 100% yang terjadi dua bulan yang lalu. Capaian inflasi ini berarti harga-harga di Venezuela telah meningkat hampir 35.000% sejak awal tahun dan 200.000% sejak 31 Agustus 2017 (year on year/yoy).

IMF sendiri memperkirakan inflasi akan mencapai 1.000.000% pada 2018. Hal tersebut diketahui setelah Presiden Nicolas Maduro meluncurkan serangkaian reformasi ekonomi bulan lalu untuk mencoba menangkap empat tahun krisis ekonomi yang telah menyebabkan ratusan ribu orang kabur dari negara kaya minyak itu.





Reformasi termasuk meningkatkan upah minimum sebesar 3.400%, redenominasi mata uang dengan menghapus hingga lima nol, yang juga didevaluasi 96% dan didasarkan pada nilai mata uang Cryptocurrency Venezuela; Petro, yang tidak terlalu populer.

Maduro juga menghantam pajak pertambahan nilai (PPN), mengurangi subsidi bahan bakar dan menciptakan retribusi baru untuk remitansi.

Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk merespons tingkat inflasi harian bulan Agustus sebesar 4% yang telah melampaui negara tetangga Kolombia selama 12 bulan terakhir (3,12%).

Para ahli sendiri mengatakan krisis ini disebabkan oleh pencetakan uang pemerintah yang ceroboh untuk mencoba mengimbangi masalah yang dibuat pada tahun 2014 oleh jatuhnya harga minyak mentah yang jadi tumpuan negara.

Itu memicu hiperinflasi. Sementara industri telah jatuh sedalam 30%, dengan kondisi penduduk menghadapi kekurangan kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan.

Layanan publik seperti air, listrik dan transportasi pun lumpuh. Rak-rak supermarket dibiarkan kosong dengan antrean panjang terbentuk di mesin-mesin uang tunai karena orang-orang menunggu untuk menarik uang kertas yang langka.

PBB mengatakan 1,6 juta orang Venezuela telah meninggalkan negara itu sejak tahun 2015. Mereka pergi menuju negara-negara Amerika Selatan lainnya, seperti Kolombia, Ekuador, Peru dan Brasil, yang justru tengah berjuang untuk mengatasi masuknya para migran.

(eds/eds)