Sekretaris Desa Labuhan Ijuk, Bustanil mengatakan, sejak diturunkan dana desa, Desa Labuhan Ijuk yang masih minim fasilitas sekarang telah berhasil membangun infrastruktur yang selama ini diidam-idamkan warga, mulai dari jalan, talud pantai, rabat beton, dan MCK.
"Setelah ada dana desa dari pusat, kami bisa menata desa kami dengan baik. Sehingga pekarangan rumah warga 90% sudah tidak masuk air lagi kalau air pasang. Kemudian kami juga sudah bisa menata dan mempercantik desa kami," ungkap Bustanil dalam keterangan tertulis, Rabu (12/9/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Bustanil berharap suatu saat dana desa dapat digunakan untuk mendorong pengelolaan hasil tangkap warga, seperti halnya untuk penyediaan sarana pasca panen. Sebab saat ini, dana desa Labuhan Ijuk masih fokus memenuhi kebutuhan infrastruktur.
"Kami berharap agar dana desa jangan sampai berhenti. Agar kami ke depannya bisa merasakan sedikit pembudidayaan dari olahan ikan. Karena masih banyak sekali alat nelayan dan pengolahan yang kami butuhkan di desa ini. Karena kalau lagi banjir ikan, ikan sampai kita buang-buang. Dan masih keterbatasan SDM juga," katanya.
Dirinya menjelaskan bahwa sebanyak 80 persen warga Desa Labuhan Ijuk berprofesi sebagai nelayan. Mereka biasa berangkat melaut sore dan pulang pagi hari membawa hasil tangkapan. Hasil tangkapan ini kemudian langsung dijual ke pasar dan pengepul.
"Ikan di desa ini terkenal paling enak karena dijamin segar. Ikan yang ditangkap langsung dijual, tidak sampai bermalam. Kami juga tidak ada yang menggunakan bom ataupun potasium. Malah kami minta kepada pemerintah, tolong Pulau Dangar itu diamankan dari potasium dan pengeboman. Karena secara turun temurun, di situlah kami mencari ikan," ujarnya.
Menurut Bustanil, potensi ikan dan pariwisata di desanya sebenarnya bisa dikembangkan menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun menurutnya, hal tersebut terkendala dengan minimnya fasilitas komunikasi dan internet di desanya. Sehingga pertukaran informasi dan promosi masih sulit dilakukan.
"Kami sulit ekspos karena sinyal tidak ada. Sinyal HP (handphone) tidak ada, apalagi internet. Harus ke kota dulu baru bisa dapat sinyal. Sedangkan untuk membuat profil desa saja harus menginap beberapa hari di Sumbawa," ujarnya. (idr/ara)











































