Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 14 Sep 2018 17:10 WIB

Mendag: Impor Bukan Barang Haram

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Impor seringkali dianggap jadi biang keladi penyebab anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sehingga, cukup banyak desakan agar RI setop impor.

Bicara soal impor, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia tidak bisa menghentikan ekspor 100% dan hanya mengandalkan ketersediaan pasokan produk lokal saja.

Ia mengumpamakan Indonesia seperti Jakarta yang membutuhkan barang-barang dari daerah lain seperti Jawa Bara dan Jawa Tengah.

"Sama saja sekarang. Bisakah provinsi Jakarta menutup diri tidak mau mengambil komoditas dari daerah manapun? Nggak mungkin. Jakarta bisa hidup nggak, Jakarta nggak bisa lepas dari beras dari Jabar. Jakarta bisa hidup nggak tanpa Jawa Tengah? Nggak bisa hidup," papar Enggar di kantor detikcom, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).



Kondisi yang dialami Jakarta tersebut, kata Enggar, juga dialami Indonesia dalam skala yang lebih luas.

"Kalau kita lihat dari neracanya Jakarta dia ada impor dan dia ada ekspor. Demikian juga dalam dunia ini, jadi impor bukan suatu barang yang haram. Pada saat kita butuh ya kita impor, kita lebih dan kita bisa produksi. Bagian orang lain perlu ya kita ekspor," ujar dia.

Ia melanjutkan, dalam kerja sama dagang dengan berbagai negara, RI tidak melulu mengalam defisit. Dengan Amerika misalnya, RI mengalami surplus neraca perdagangan.

"Berdasarkan catatan dari Amerika, ada US$ 14 miliar. Kita dengan India, surplus kita US$ 10 miliar. Kita dengan Filipina kita surplus, dengan Pakistan surpus kita US$ 1 miliar. Kalau mereka bilang saya anti impor, ya kita nggak surplus. Ya kan? Ya saat itu saat mereka butuh mereka impor," ulas dia.



Meski demikian, ia tak menampik RI masih mengalami defisit neraca dagang dengan sejumlah negara seperti China. Namun kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam hubungan dagang, tinggal bagaimana pemerintah bisa mengendalikannya.

"Kita dengan China kita masih defisit. Nah, inilah yang namanya perdagangan. Ada ekspor ada impor ada surplus ada defisit," papar dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed