Follow detikFinance
Selasa, 18 Sep 2018 20:10 WIB

Kerajinan Limbah Batok Kelapa Tembus Pasar Filipina dan Inggris

Akrom Hazami - detikFinance
Foto: Akrom Hazami Foto: Akrom Hazami
Kudus -
Siapa sangka batok atau tempurung kelapa, ternyata bernilai rupiah tinggi. Bagi kebanyakan orang, batok kelapa itu mungkin tidak bernilai, tetapi bagi perajin justru sangat berguna.

Pengrajin bisa memanfaatkan batok kelapa untuk dijadikan aneka kerajinan yang diminati banyak orang. Tidak heran jika pasarnya selain sampai ke seluruh pulau di Indonesia, juga sampai ke Inggris dan Filipina.

Adalah Tiar Bachroni (24) warga Desa Ngemplak Gang 2, RT 2 RW 1, Kecamatan Undaan, Kudus. Dari tangan pemuda ini, limbah batok kelapa mempunyai nilai seni tinggi.

"Batok kelapa saya olah biar menjadi barang seni hingga alat rumah tangga dan lainnya," kata Roni, sapaan akrabnya di workshop-nya, Selasa (18/9/2018).

Dia berhasil mengolah batok kelapa, jadi aneka barang seni. Mulai dari gantungan kunci, cangkir, mangkuk, sendok, tas, miniatur lampion, helm, asbak, dan lainnya. Roni setidaknya telah membuat 50 jenis kerajinan batok kelapa.


Bahkan, hasil sentuhannya juga berhasil dilirik hingga ke Inggris dan Filipina. Untuk pengiriman ke Inggris, memang baru sekali. Tapi pengiriman ke Filipina, telah dilakukannya sebanyak dua kali. Dengan jumlah kirimannya di Inggris 40 buah hasil kerajinan. Sedangkan di Filipina, Roni berhasil kirim hingga 100-an buah kerajinan.

"Warga asing lebih suka membeli alat-alat rumah tangga natural dari batok kelapa. Seperti sendok, dan cangkir," terang dia.

Mengolah batok kelapa menjadi barang seni.Mengolah batok kelapa menjadi barang seni. Foto: Akrom Hazami

Sedangkan untuk pasar dalam negeri, pemilik merek Oni Made Batok Craft menuturkan, hampir sebagian besar pulau seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, telah dirambahnya. Termasuk di dalam pulau Jawa sendiri.

Sejauh ini, dia menggunakan pemasaran online murni. Mulai dari media sosial sampai seluruh situs jual beli ternama, di Indonesia. Tidak heran jika pemasarannya menyebar luas ke seluruh wilayah.

Setiap harinya, lulusan UIN Walisongo Semarang ini, mampu memproduksi sekitar 50 hasil kerajinan tangan batok kelapa. Dengan harga mulai Rp 10 ribu sampai Rp 350 ribu.


"Nah, harga tergantung tingkat kesulitan dan keinginan pemesan. Semakin sulit maka akan semakin mahal," bebernya.

Dia menggeluti usaha ini dari empat tahun silam. Bermula dari kegelisahannya terhadap banyaknya limbah batok kelapa. Menurutnya, batok kelapa akan sayang kalau sekadar dibakar. Sebab selain menimbulkan bau, juga mengotori lingkungan.

"Saya pun terbersit ide untuk mengolah batok kelapa jadi barang seni. Sejak SMA saya sudah mulai tertarik. Saya seriusi empat tahun lalu," ucap putra kedua dari empat bersaudara ini.
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed