Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 20 Sep 2018 15:12 WIB

Pemerintah Tak Lagi Gali Lubang Tutup Lubang di 2020?

Hendra Kusuma - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pemerintah menargetkan pada 2020 sudah tidak lagi melakukan gali lubang tutup lubang dalam menjalankan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, tidak melakukan gali lubang tutup lubang karena defisit anggaran yang semakin kecil.

"Defisit yang lebih rendah ini kita juga bisa mendorong keseimbangan primer menuju positif atau mendekati nol alias surplus," kata Suahasil di ruang rapat Banggar DPR RI, Jakarta, Kamis (20/9/2018).


Keseimbangan primer adalah selisih antara penerimaan negara dikurangi belanja yang tidak termasuk pembayaran utang. Jika nilainya masih defisit, maka pemerintah harus berutang lagi untuk membayar utang-utang yang jatuh tempo atau gali lubang tutup lubang. Namun, jika nilainya positif, maka pemerintah mampu membiayai utang jatuh tempo dengan sumber penerimaannya sendiri.

Pemerintah menargetkan defisit anggaran tahun 2019 sebesar 1,84% terhadap PDB atau setara dengan Rp 359,12 triliun. Dengan defisit tersebut, angka keseimbangan primer masih defisit sekitar Rp 21,7 triliun.

"Kalau kita lihat keseimbangan primer kita yang paling besar defisitnya pada tahun 2015 Rp 142,5 triliun ini yang berusaha kita turunkan terus sejak tahun 2015-2016, 2017 tahun 2018 ini kami perkirakan keseimbangan primer masih defisit Rp 64,8 Triliun namun tahun depan kita harapkan tinggal Rp 21,7 Triliun," jelas dia.


Angka defisit anggaran yang terus turun, lanjut Suahasil pun menjadi langkah pemerintah menyelesaikan tugas menekan defisit keseimbangan primer di tahun 2020.

"Sehingga niatnya ketika nanti tahun depan kita membuatkan RAPBN 2020 yang merupakan RAPBN pertama untuk periode presiden yang berikutnya, maka keseimbangan primer tersebut bisa di atas nol alias surplus ini niatnya jadi pemerintahan ini bisa menyelesaikan PR yaitu membuat keseimbangan menuju positif," tutup dia. (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed