Kumpul Bareng Milenial, Sri Mulyani Bicara Ekonomi RI Terkini

Kumpul Bareng Milenial, Sri Mulyani Bicara Ekonomi RI Terkini

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Sabtu, 29 Sep 2018 17:51 WIB
Kumpul Bareng Milenial, Sri Mulyani Bicara Ekonomi RI Terkini
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Di akhir pekan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkumpul dengan para generasi milenial. Bendahara negara itu menjadi pembicara dalam acara Millennials Festival di Cinema XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam acara yang dihadiri oleh ratusan anak muda berusia 17-35 tahun itu, Sri Mulyani berbicara mengenai kondisi terkini perekonomian Indonesia. Sri mulyani mengatakan bahwa secara umum kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan yang baik.

"Kalau kita ngomong ekonomi kan, kalau kita tanya keadaan, 'kamu bagaimana keadaannya ya? baik-baik saja'. Jadi kalau perekonomian juga banyak sekali indikatornya," kata Sri Mulyani di lokasi, Sabtu (29/9/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sri Mulyani menjelaskan, ada banyak indikator yang dapat menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan baik. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, hingga tingkat inflasi. Dia bilang, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, maka kemiskinan dan tingkat pengangguran bisa berkurang.


Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 sendiri tercatat 5,27%. Menurut Sri Mulyani, tingkat pertumbuhan ekonomi itu sudah merupakan raihan yang cukup positif.

"Pertumbuhan ekonomi kita di atas 5,27%. Itu bagus, dibandingin sama emerging market. Ada nggak pertumbuhan yang lebih tinggi? Ada. Ada Kamboja, Vietnam. Kalau G20 bagus nggak? Bagus kita nomor 3 di bawah India, China," jelasnya.

Sementara untuk tingkat inflasi, Sri Mulyani mengatakan pemerintah menjaganya di level 3,2%. Dia bilang, bahwa rendahnya tingkat inflasi tersebut juga cukup positif untuk Indonesia.

"Inflasi di 3%, tapi kok beli nasi di warteg naik dari Rp 10 ribu ke Rp 15 ribu. Padahal katanya inflasinya 3,2%, tapi orang beli warteg harganya naik 20%. Jadi selalu ada persepsi seperti itu, karena inflasi dihitung dari seluruh komoditas barang dan jasa. Jadi itu kita anggapnya naik 20%. Itu bohong nggak pemerintah? Ya nggak," kata Sri Mulyani.


"Karena inflasi itu dihitung dari seluruh barang dan jasa. Dan mungkin sekarang sudah mencapai 500, kalau di negara lain mungkin 1.000 barang dan jasa. Jadi kita katakan kenaikan rata-rata seluruh barang jasa 3,2% itu termasuk rendah," tuturnya. (fdl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads