Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 02 Okt 2018 11:28 WIB

Kenangan Pahit Ciputra soal Gempa dan Tsunami di Sulawesi

Sudrajat - detikFinance
Foto: Danang Sugianto/detikFinance Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Gempa dengan magnitudo 7,4 yang mengguncang Donggala dan Palu pada Jumat (28/9), bukanlah yang pertama menghantam di bumi Sulawesi itu. Sejak 1927, gempa dan tsunami hebat pernah mengguncang di sejumlah titik wilayah itu.

Pengusaha properti, Ir Ciputra yang lahir di Parigi pada 24 Agustus 1931 punya pengalaman tentang bencana di sana. Parigi, sebuah kota seluas 6.000 kilometer persegi di perbatasan Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Jaraknya sekitar 500 kilometer dari Gorontalo. Ciputra mengenang Parigi sebagai kota yang sejuk dan hijau, meski terpencil.

Selain itu, ada juga sekelumit kenangan pahit Ciputra terkait tanah kelahirannya itu. Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Parigi pernah terdampak akibat gempa berkekuatan 6 SR yang memicu tsunami dengan ketinggian gelombang 8-10 meter. Akibatnya, sebanyak 200 orang tewas, 790 rumah rusak, dan seluruh desa di pesisi pantai barat hampir tenggelam.

Orang tua Ciputra, pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang sudah tinggal di Parigi sejak 1926 nyaris menjadi korban bencana dahsyat tersebut. Sementara Ciputra yang kala itu masih bernama Tjie Tjin Hoan setahun sebelumnya dititipkan di Gorontalo bersama kakeknya untuk disekolahkan.


"Tahun 1938 terjadi gempa bumi hebat di Sulawesi Tengah yang mengakibatkan tsunami dahsyat di Teluk Tomini. Parigi termasuk desa yang porak poranda. Beruntung, Papa dan Mama selamat," kenang Ciputra dalam biografi Ciputra The Entrepreneur: The Passion of My Life (2018) karya Alberthiene Endah.

Pasca bencana itu, Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio tak mau lagi membangun rumah dan meneruskan hidup di Parigi. Keduanya memilih hijrah ke Bumbulan, desa kecil sekitar 140 kilometer dari Gorontalo. Di sana, orangtuanya mengelola toko milik Tjie Tjie, kakek Ciputra. Selain karena gempa, ada alasan khusus Tjie Sim Poe memutuskan hijrah ke Bumbulan pada 1939, yakni kondisi ayahnya, Tjie Tjie, yang kerap sakit-sakitan.

Selamat dari gempa dan tsunami, hidup ayah Ciputra berakhir di tangan polisi rahasia Jepang (Kempeitai) yang menuduhnya mata-mata Belanda. Dia meninggal dalam tahanan Jepang di Manado. Hok Sioe, warga Bumbulan yang ikut ditawan bersama Tjie Sim Poe mengabarkan hal itu dua bulan setelah kematiannya dalam penjara Jepang di Manado.

"Papa wafat di tengah penderitaan penjara zaman Jepang. Kelaparan dan kesepian," kenang Ciputra getir.



Terkait gempa dan tsunami di Sulawesi ini Trans Media membuka pintu donasi bagi pembaca yang ingin menyalurkan bantuan bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana ini. Salurkan bantuan Anda melalui rekening DOMPET AMAL TRANS MEDIA:

Bank Mega : 01.074.00.11.111.889
Mega syariah: 10.000.100.100.1004
BNI : 70.123.70.321
BCA: 375.0500.888
Mandiri : 127.0000.2.7777.0
BRI 034 10 100 1617 301 (jat/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com