Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 02 Okt 2018 15:32 WIB

Tambah 19 Lokomoitf, KAI Bidik Angkutan Barang 47,2 Juta Ton

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Ilustrasi Kereta Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi Kereta Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menambah 19 lokomotif khusus untuk rangkaian kereta pengangkut barang-barang atau kereta logistik.

Direktur Utama KAI Indoensia Edi Sukmoro menargetkan, angkutan logistik yang akan diangkut menggunakan kereta logistik akan bertambah di tahun ini menjadi 47,2 juta ton dari sebelumnya hanya bisa mengangkut 40,1 juta ton.

"Kita targetkan volumenya tambah di tahun 2018, totalnya 47,2 juta ton. Tahun lalu 40,1 juta ton," jelas dia dalam acara diskusi mengenai Kendaraan obesitas dan overdimensi di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).

Edi menjelaskan, hingga saat ini pihaknya masih mengangkut beberapa produk. Seperti batu bara, semen curah dan semen sak serta berbagai barang angkut logistik lainnya.


Sampai Agustus 2018, PT KAI sudah mengangkut 29,5 juta ton. Ia mengaku optimis target angkut hingga 47,2 juta ton akan tercapai sampai Desember 2018.

"Bisa bermacam-macam, seperti batu bara, kontainer berisi semen. Ada yang semen curah ada juga yang semen sak. Agustus lalu angkutan sudah 29,5 juta ton," papar dia.

Edy menjelaskan, target dari volume angkut saat ini bisa lebih tinggi karena pemerintah saat ini tengah fokus untuk mengalihkan skema angkut logistik dari jalan raya ke jalur lainnya salah satunya jalur kereta api.

"Kan pemerintah sekarang lagi berusaha mengalihkan dari angkutan jalan raya ke jalur lain. Dari diskusi yang akan dilakukan hari ini sedang dilihat apakah coast-nya akan lebih murah jika menggunakan kereta," kata dia.

Hingga saat ini kata Edy, para pengusaha lebih banyak memilih untuk membawa barang logistik untuk menggunakan truk karena bisa diangkut sampai tujuan.

Sementara kereta hanya bisa mengangkut barang sampai stasiun, dari stasiun sampai gudang produksi membutuhkan transportasi lain. Artinya kata Eddy bisa ada pengeluaran lainnya.

"Itu jadi pertimbangannya jangan sampai pemilik barang pindah ke KAI tapi costnya lebih besar. Diskusi ini merupakan cara agar kami tahu apa saja yang dibutuhkan," jelas dia.

Sementara itu lebih lanjut dia mengatakan jika barang logistik bisa dialihkan ke jalur kereta api akan meminimalisir kecelakaan di jalan raya.

"Seperti itu pindah ke KAI itu paling tidak sama. Jalan raya itu kalau bisa sebagian dipindahkan maksimal, karena kecelakaan bisa berkurang, ketepatan waktu bisa dipegang," papar dia.


Sebagai informasi, pemerintah saat ini tengah fokus untuk mengurangi truk obesitas pengangkut barang-barang logistik yang ditemukan banyak melintas di jalan tol.

Saking beratnya angkutan barang, melintasnya truk obesitas ini berdampak pada bengkaknya biaya pemeliharaan infrastruktur yang mencapai Rp 43 triliun.

Masalahnya, truk-truk bermuatan besar ini tidak seharusnya membawa bobot berlebihan sehingga membuat jalanan di tol menjadi rusak.

Akibatnya pengelola dan juga pemerintah perlu memperbaiki kerusakan tersebut setiap tahun, padahal jika jalur tol dilintasi oleh kendaraan kendaraan dengan bobot yang sesuai, biaya pemeliharaan akan jauh lebih murah karena jalan tidak banyak yang rusak.

Untuk memecahkan permasalahan tersebut Kementerian Perhubungan sudah mengatur mengenai truk obesitas pengangkut barang-barang logistik dilarang melintas ke jalan raya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com