Kurtubi: Asumsi Harga Minyak RAPBN 2006 Tidak Realistis
Kamis, 18 Agu 2005 11:31 WIB
Jakarta - Asumsi harga minyak yang ditetapkan dalam RAPBN 2006 sebesar US$ 40 per barel sangat tidak realistis. Harga minyak sepanjang tahun 2006 diperkirakan rata-rata berada di level US$ 60-75 per barel."Memang akan ada penurunan harga karena adanya penurunan demand pada triwulan II-2006. Tapi kemungkinan harga turun itu, saya tidak percaya turunnya ke US$ 40 per barel. Paling rendah turunnya mencapai US$ 50 per barel," kata pengamat perminyakan Kurtubi.Ia menyampaikan hal itu di sela-sela diskusi mengenai asumsi harga minyak di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (18/8/2005).Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengatakan, pemerintah memrediksi harga minyak selama tahun 2006 akan turun US$ 10-15 per barel. Penurunan itu dikarenakan suplai minyak dunia akan mengalami kelebihan di samping demand yang turun karena pertumbuhan ekonomi dunia sudah jenuh. Kurtubi mengaku tidak sependapat dengan estimasi Purnomo tersebut. Menurutnya, harga minyak pada akhir tahun 2005 akan tetap tinggi di level US$ 60-75 per barel. Bahkan, bisa jadi angka US$ 75 per barel akan tertembus pada triwulan IV-2005 karena demand yang tinggi. Memasuki tahun 2006, Kurtubi memperkirakan harga minyak selama triwulan I-2004 akan sama dengan triwulan IV-2005. Kenaikan Harga BBMMengenai rencana pemerintah menaikkan harga BBM paling lambat Januari 2006, Kurtubi menyebutnya sebagai suatu kebijakan yang sangat pahit. Dan jika pemerintah menempuh kebijakan tersebut, Kurtubi menyarankan sebaiknya ditempuh secara bertahap.Kenaikan bertahap ini, menurut Kurtubi, berkaitan dengan masih lemahnya daya beli masyarakat dan struktur harga di dalam negeri yang masih didominasi satu pemain. Untuk tahap awal, Kurtubi menyarankan kenaikan harga BBM rata-rata 30 persen. Menurutnya, pemerintah harus membuat sebuah target, misalnya 2-3 tahun ke depan subsidi sudah bisa dihilangkan. Terkait masalah batas akhir Pertamina mengemban Public Service Obligation (PSO) pada November 2005, Kurtubi menyatakan bahwa Pertamina tetap harus memenuhi kebutuhan BBM nasional. Namun Pertamina harus lebih transparan mengenai aliran dana karena uang yang dikelola adalah uang negara.Mengenai masuknya pemain asing, Kurtubi mengatakan, pemerintah tetap harus mengambil peranan penting untuk mengendalikan harga BBM yang dijual di dalam negeri. "Harga jual tetap yang menentukan adalah pemerintah, tidak boleh diserahkan kepada pemain atau kepada pasar," ujarnya.
(qom/)











































