Follow detikFinance
Jumat, 19 Okt 2018 14:31 WIB

Perang Dagang dengan AS, Bikin Ekonomi China Melambat

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mulai terasa. Perlambatan pertumbuhan ekonomi China mulai semakin parah.

Tercatat pada kuartal III-2018 pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,5%. Angka itu pertumbuhan ekonomi China kuartalan paling rendah sejak krisis keuangan global pada awal 2009.

Catatan itu juga lebih rendah dari proyeksi para ekonom. Pertumbuhan China sebelumnya diprediksi pada 6,6%.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi China itu disusul setelah pemerintahnya berupaya untuk mengendalikan tingkat utang yang tinggi. Selain ituChiina juga mulai mendapat tekanan dari tarif AS pada lebih dari US$ 250 miliar ekspornya.


Para pejabat China telah beralih dengan kebijakan pemotongan pajak, infrastruktur dan kebijakan moneter yang lebih longgar ketika mereka berusaha untuk menopang pertumbuhan.

"Kami pikir pelonggaran lebih lanjut masih akan diperlukan untuk menstabilkan pertumbuhan," kata Ekonom senior di China, Julian Evans-Pritchard, dilansir dari CNN Business, Jumat (19/10/2018).

Dia sebelumnya memprediksi perlambatan ekonomi China akan turun sekitar pertengahan tahun depan.

Pasar saham dan mata uang negara itu telah digoncang dalam beberapa bulan terakhir oleh kekhawatiran tentang ekonomi dan dampak perang dagang.



Meskipun mengelami perlambatan ekonomi, China masih terlihat di jalur untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi di 2018 sekitar 6,5%. Namun para ahli telah lama meragukan akurasi data ekonomi China. Mereka mulai beralih ke indikator lain seperti output listrik dan pengiriman barang untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang terjadi atas ekonomi China.

Perang dagang dengan AS juga kemungkinan akan membebani perekonomian China pada kuartal-kuartal mendatang.

Pemerintahan Trump berencana menaikkan tarif bea masuk terhadap barang China senilai US$ 200 miliar, atau naik dari 10% menjadi 25% pada akhir tahun. Trump juga mengatakan bahwa dia siap untuk memperluas tarif untuk secara efektif ke seluruh produk China yang masuk ke AS.

Ekspor China tumbuh kuat pada bulan September, tetapi analis menilai hal itu mungkin telah didorong oleh perusahaan-perusahaan yang bergegas untuk mengirimkan barang sebelum tarif baru AS diberlakukan.

Para pejabat Cina juga mengakui bahwa saat ini merupakan bulan-bulan yang sulit untuk ekspor. Tekanan lebih lanjut mungkin berasal dari potensi perlambatan pertumbuhan global tahun depan

"Yang terburuk belum datang," kata Ekonom Daiwa Capital Markets, Kevin Lai. (das/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed