BPS sendiri bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Badan Informasi dan Geospasial (BIG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) telah menembukan metodologi baru menghitung produksi beras yakni Kerangka Sampe Area (KSA).
Metode itu menggunakan teknologi citra satelit yang terus update setiap bulannya. Dengan menggunakan KSA BPS dan tim menghitung ulang luas lahan baku sawah untuj mendapatkan data luas panen padi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun depan kita coba jagung. Tapi ada beberapa hal yang akan kami coba dalami lagi. Kebiasaan beberapa wilayah, petani nanam jagung dan beras di tempat yang sama," tuturnya di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (24/10/2018).
Sayangnya, saat ini luas lahan bahan baku jagung tidak jelas. Sebab kebanyakan dari petani padi juga ikut menanam jagung di lahan yang sama.
"Itu harus ada pendalaman lagi, pengerjaan di 2019," tambahnya.
Perumusan metode KSA sendiri sudah dilakukan sejak 2015. Penggunaan metode baru ini didasari atas banyaknya keluhan tentang ketidakakuratan pendataan.
"Kenapa metodologi perhitungan beras perlu diperbaiki, karena sejak 1997 banyak pihak menduga bahwa perhitungan data produksi kurang tepat. Itu kesalahan banyak pihak termasuk BPS tentunya," kata Kepala BPS Suharyanto.
KSA sendiri merupakan metode perhitungan luas panen khususnya tanaman padi dengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah yang berasal dari Kementerian ATR.
Untuk menghitung produksi maka memerlukan data luas panen dan produktivitas. Untuk luas panen sendiri tergantung dari data luas bahan baku sawah.
Untuk menghitung luas bahan baku sawah tim BPS harus datang langsung ke titik koordinat yang ditentukan melalui citra satelit. Setelah ada di titik koordinat kemudian tim BPS mengambil foto.











































