Lantas, apakah artinya selama 20 tahun Indonesia mengacu data produksi beras yang salah? Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, data produk beras bukan satu-satunya acuan yang bisa digunakan pemerintah untuk menentukan kebijakan.
"Kan data yang digunakan untuk membuat kebijakan tidak hanya data produksi. Kita punya data harga yang jauh lebih bagus, pergerakan harga bulanan," katanya di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta Timur, Kamis (25/10/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain data BPS juga ada data stok beras dari Bulog.
"Kita juga punya data stok di Bulog. Jadi kebijakan tidak hanya didasarkan kepada data produksi. Memang itu menjadi krusial tapi selama ini kebijakannya juga banyak menggunakan data lain. Data produksi bukan satu satunya data," tambahnya.
Diketahui, pemerintah bersama BPS kini tengah berupaya memperbaiki metode penghitungan produksi beras. Bahkan hal itu sudah di bawa ke dalam rapat bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).
Metodologi yang dimaksud adalah Kerangka Sampel Area (KSA). KSA merupakan metode perhitungan luas panen, khusunya padi, dengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari Badan Informasi dan Geospasial (BIG) dan peta lahan baku sawah yang berasal dari Kementerian ATR.
Tonton juga 'Jurus BPS Benahi Kekeliruan Data Produksi Beras':
(hns/hns)











































