Dukung Ekspor, Kementan Perbaiki Layanan Karantina

Rizki Ati Hulwa - detikFinance
Jumat, 26 Okt 2018 17:00 WIB
Foto: Dok Kementan
Jakarta - Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) saat ini terus melakukan inovasi untuk mendorong ekspor, termasuk dalam hal percepatan layanan sertifikasi ekspor karantina. Hal ini dilakukan agar neraca perdagangan selalu positif.

"Sejalan dengan arahan Presiden agar neraca perdagangan positif, maka ekspor harus lebih besar dari impor. Kami siap mengantisipasi peningkatan dengan percepatan layanan karantina," ungkap Kepala Barantan Banun Harpini, Jumat (26/10/2018).

Hal itu diungkapkan saat menghadiri pembukaan Trade Expo Indonesia Tahun 2018 di Serpong, Tangerang.


Dijelaskan Banun, stand Barantan yang terletak di 9-73A menampilkan layanan monitoring lalu lintas produk pertanian secara online dan real time melalui Indonesia Quarantina Full Automation System (IQFAST). IQFAST tengah di integrasikan dengan Sistem Layanan Perbankan, sehingga akan lebih memudahkan pelaku usaha dalam bertransaksi pembayaran jasa layanan karantina sesuai ketentuan yang berlaku dan bebas pungli.

Menurutnya, inovasi layanan karantina ini akan terus didorong guna mengakselerasi ekspor produk pertanian, salah satunya sertifikasi karantina yang kini sudah dibuat dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Inggris dan Mandarin. Terobosan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan negara tujuan ekspor.

Barantan sebagai salah satu pembicara forum bisnis yang dihadiri ratusan pebisnis sarang walet asal China dan mancanegara, dimanfaatkan untuk meyakinkan pebisnis mancanegara agar mau menambah pembelian sarang walet dari Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Karantina Hidup Iswan Haryanto memaparkan proses sertifikasi dari karantina sebagai jaminan kualitas sarang walet yang diekspor ke China. Ada tiga poin fokus karantina terkait hal itu, yaitu fungsi keterletusuran, proses pemanasan dan residu nitrit.

"Semua titik kritis sudah dikendalikan. Kami melalukan monitoring, minimal satu kali setahun," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) Boedi Mranats menyebutkan bahwa kuota walet yang diberikan China pada tahun ini sebesar 150 ton. Sedangkan estimasi pemenuhan dari lndonesia hanya sebesar 70 -80 ton saja.

"Ini pasar yang wajib digarap," terang Boedi.

Berdasarkan data Kementan, ekspor sarang walet ke China terus meningkat. Pada 2015 hanya 14,2 ton, 2016 sebanyak 22,5 ton, 2017 sejumlah 52,2 ton dan 2018 hingga Agustus ini tercatat sudah 39,3 ton dengan jumlah eksportir sebanyak 11 perusahaan. Sedangkan di luar China, ada 26 negara dengan total ekspor hingga Agustus 2018 sebanyak 818,8 ton.


Sebelumnya Banun juga berkesempatan menemui para pengunjung pameran di stand Barantan, salah satunya adalah Rudi dari PT Anugerah Citra yakni pelaku usaha ekspor sarang burung walet asal Tanggerang. Dia menyampaikan bahwa regulasi telah disiapkan Barantan dan jelas sesuai protokol ekspor karantina sarang burung walet dari Indonesia ke China.

"Peluang ekspor sarang burung walet sangat besar, namun masih tergolong sedikit digarap. Ke depannya, kami harap sarang walet bisa jadi salah satu ekspor unggulan dan karantina sudah siap," tutup dia. (ega/hns)