Pengusaha Beras: Stok Bisa Ditahan, Tak Perlu Impor

Raras Prawitaningrum - detikFinance
Sabtu, 03 Nov 2018 20:45 WIB
Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Jakarta - Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu mengimpor beras lagi. Sebab, sampai saat ini hingga 2019, kebutuhan beras masih bisa dipenuhi dari produksi sendiri.

Stok beras tersebut diperoleh dari surplus beras Indonesia sebanyak 2,85 juta ton pada 2018 yang dirilis BPS dan produksi beras hasil panen pada awal 2019.

"Surplus beras Indonesia sebanyak itu bisa menjaga stabilitas pasokan hingga akhir tahun. Kuncinya ada pada penyerapan beras petani oleh Bulog di bulan Oktober-Desember. Kalau surplus bisa terserap separuhnya, stok bisa ditahan hingga Maret ketika musim panen dan tak perlu impor," ujar Sutarto dilansir dari situs resmi BUMN seperti yang tertulis pada rilis Kementerian Pertanian (Kementan), Sabtu (3/11/2018).


Direktur Pengadaan Bulog Bachtiar pun menyetujui pernyataan Sutarto. Ia mengatakan stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai 2,7 juta ton.

"Stok ini tentunya di atas ambang aman," katanya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan dengan stok yang ada, pemerintah tidak akan menambah impor. Faktanya, stok beras di Bulog sebagai indikator ketahanan beras nasional berada di atas 1 juta ton dan harga beras masih stabil atau tidak mengalami kenaikan yang drastis.

"Dasar impor itu kalau stok Bulog di bawah 1 juta ton dan harga naik sampai dengan 10%," kata JK berdasarkan rilis dari Kementan.


Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura Indonesia (APT2PHI) Rahman Sabon Nama mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam penyajian data maupun mengambil keputusan kebijakan pangan.

Menurutnya, hal ini penting untuk diperhatikan agar terhindar dari kesan bahwa data produksi padi yang rendah menjadi alasan mengeluarkan izin impor beras yang akan merugikan petani dan masyarakat konsumen.

"Jangan sampai keliru dalam membuat kebijakan terkait anggaran dan impor beras. Dengan alasan produksi yang rendah dan lahan sawah semakin berkurang sehingga pemerintah perlu menambah anggaran untuk tambahan impor beras," tegasnya.

Direktur Serealia, Kementan, Bambang Sugiharto menegaskan data BPS yang menyatakan surplus beras mencapai 2,85 juta ton hingga Desember 2018 memastikan kebutuhan beras domestik dapat dipenuhi oleh produksi pangan dalam negeri. Apalagi saat ini sudah terjadi panen di beberapa daerah dan pada bulan September kemarin tercatat ada pertanaman padi sekitar 1,5 juta hektare.

"Ini akan panen di Januari, hasil berasnya 900 ribu ton dan ditambah stok Bulog yang belum keluar masih ada 2,7 juta ton. Panen pun akan berlangsung Maret dan seterusnya. Jadi terjadi panen sepanjang waktu. Dengan begitu, stok beras cukup aman hingga Agustus 2019, tidak perlu impor," katanya.

Ketersediaan beras, lanjut Bambang, juga terlihat dari cadangan beras di masyarakat dan pedagang juga masih cukup besar.

"Buktinya, aliran beras masuk Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih dua kali dari hari normal. Selain itu, stok harian PIBC masih mencapai 50 ribu ton sehingga 2 kali dari stok normal," pungkasnya. (mul/ega)