Harga Minyak Dunia Sentuh Level US$ 68 per Barel

Harga Minyak Dunia Sentuh Level US$ 68 per Barel

- detikFinance
Kamis, 25 Agu 2005 11:30 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia kembali melambung dan menyentuh level US$ 68 per barel. Kacaunya kembali harga minyak dunia ini merupakan dampak munculnya badai di Teluk Meksiko serta turunnya cadangan BBM AS. Sementara permintaan dari Cina sebagai salah satu negara konsumen dunia tak kunjung menunjukkan penurunan. Harga minyak mentah pada New York Mercantile Exchange untuk kontrak Oktober sempat menyentuh angka US$ 68 per barel pada sesi pagi di Singapura, Kamis (25/8/2005). Namun kemudian harga minyak kembali ke level US$ 67,74 per barel, atau berarti naik 42 sen dibandingkan penutupan perdagangan Rabu di New York. Badai Tropis Katrina diperkirakan mencapai Teluk Meksiko pada akhir pekan ini. Padahal produksi kilang-kilang di Teluk ini mencapai 30 persen dari produksi minyak AS. Sejumlah kilang di wilayah ini padahal masih dalam perbaikan setelah munculnya sejumlah badai beberapa waktu lalu. Departemen energi AS menyebutkan cadangan domestik bensin AS turun hingga 3,2 juta barel pada pekan lalu menjadi 194,9 juta barel atau 7 persen di bawah angka tahun lalu. Sementara data impor BBM yang dikeluarkan Ditjen Bea Cukai Cina menunjukkan, impor minyak negeri tirai bambu ini mencapai 11,1 juta metrik ton selama Juli, atau secara rata-rata adalah 2,62 juta barel per hari. Dalam tujuh bulan pertama tahun 2005 ini, total impor minyak mentah Cina sudah meningkat 5,4 persen dibandingkan tahun lalu. Padahal AS dan Cina adalah merupakan konsumen minyak mentah utama dunia.Di Tokyo, Menteri Keuangan Jepang Sadakazu Tanigaki mengatakan, impor minyak mentah Jepang untuk Juli hanya meningkat 0,8 persen. Namun akibat tingginya harga minyak, Jepang harus membayar minyak mentah dalam jumlah yang lebih besar 48,5 persen.Sementara produksi minyak di sejumlah negara utama penghasil minyak juga terganggu seperti Ekuador yang terganggu akibat adanya pemogokan. Sementara di Irak, sejumlah kilang ditutup akibat masalah kelistrikan. Managing direktor IMF Rodrigo Rato mengingatkan, tingginya harga minyak akan memicu tingginya risiko pada perekonomian dunia. Rato juga memperkirakan, harga minyak dunia tidak akan turun dalam waktu dekat."Tidak ada banyak hal yang bisa melindungi kapasitas kilang dan minyak mentah. Pertanyaannya adalah kapan permintaan akan bisa diturunkan sebagai hasil dari tingginya harga minyak mentah ini," kata Shum, analis dari Purvin & Gertz seperti dilansir AP. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads