Ekonomi Jabar Triwulan III Tumbuh 5,58%, Turun dari Triwulan II

Ekonomi Jabar Triwulan III Tumbuh 5,58%, Turun dari Triwulan II

Mukhlis Dinillah - detikFinance
Rabu, 07 Nov 2018 19:06 WIB
Ekonomi Jabar Triwulan III Tumbuh 5,58%, Turun dari Triwulan II
Foto: Mukhlis Dinillah/detikcom
Bandung - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) di Jawa Barat (Jabar) Doni Joewono menjelaskan pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan III sebesar 5,58% (yoy) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan II pada angka 5,65% (yoy), meski, secara umum dibanding tahun 2014 - 2017 masih lebih baik.

"Awalnya prediksi kami malah lebih pesimis 5,39% (yoy) tapi nyatanya datanya 5,58% (yoy). Artinya tidak terlalu jelek," kata Doni dalam press conference perkembangan indikator makro terkini Jabar di kantor perwakilan BI Jabar, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu (7/11/2018).


Menurutnya kondisi positif terlihat di triwulan IV yang didorong khususnya dari sisi domestik. Hal ini berdasarkan survei konsumen, dunia usaha, rumah tangga, lembaga non profit rumah tangga, dan pemerintah yang mengalami peningkatan jelang akhir tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terlebih persiapan menjelang pemilu tahun 2019 turut mendorong konsumsi baik swasta dan pemerintah," ungkap dia.


Faktor sektoral lainnya yaitu industri pengolahan dan konstruksi akan naik. Termasuk juga investasi di Jabar cukup menjanjikan.

"Sehingga prediksi kami secara keseluruhan 2018 sedikit lebih baik dibanding 2017 berkisar 5,6 dan 5,7% (yoy)," tutur Doni.

Inflasi tinggi

Doni menambahkan angka inflasi saat ini terbilang tinggi dibandingkan wilayah Jawa lainnnya bahkan nasional. Saat ini inflasi Jabar mencapai 3,48% (yoy), sedangkan nasional berada pada 3,16 persen (yoy).

"Secara bulanan, Jabar mengalami inflasi 0,29% (mtm) yang didorong terutama peningkatan harga bensin, cabai merah, batu bata, pasir dan jeruk," terang Doni.

Menurutnya dari tujuh kota perhitungan inflasi di Jabar, yang mengalami peningkatan tertinggi di bulan Oktober yakni Kota Bandung (0,50%). Namun, dari sisi inflasi dari tahun ke tahun, inflasi tertinggi terjadi di Kota Bekasi 3,84%.


"Kenapa Kota Bandung tinggi bulan ini karena Bandung penggunaan bensin besar. Ketika naik harga, sensitif Bandung. Kedua pengaruh konstruksi seperti semen dan pasir," tutur dia.

Dia menilai yang harus diwaspadai dalam dua bulan terakhir ini yakni kenaikan inflasi pangan di wilayah pinggiran seperti Depok, Bogor dan Bekasi. Sehingga, sambung dia, perlu ada kerjasama antar instansi pemerintah dalam mengendalikannya.


"Kuncinya daerah pinggiran dapat distribusi pangan yang baik, maka kerja sama antar daerah harus dilakukan. Satgas pangan juga harus ngecek-ngecek harga di pasaran," ujar dia.

Doni berharap berbagai upaya yang dilakukan saat ini bisa mengendalikan inflasi di tahun 2018. Ia memprediksi inflasi di akhir tahun bisa terkendali di kisaran 3,1 atau 3,2%.

"Jadi kita berharap jadi 3,1 atau 3,2 persen secara total di tahun 2018," kata Doni (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads