Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 10 Nov 2018 12:17 WIB

Soal Transaksi Berjalan, Darmin: Sejak Merdeka Kita Selalu Defisit

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul/detikFinance Foto: Selfie Miftahul/detikFinance
Jakarta - Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal III-2018 sebesar US$ 8,8 miliar atau 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). Jika dilihat secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga kuartal III-2018 tercatat 2,86%.

Menanggapi data tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sepertinya tidak heran. Dia melihat impor masih cukup tinggi, sementara ekspor masih belum bisa terdorong.

"Impornya ini masih tinggi, tinggal ekspornya bagaimana, karena memang kita enggak bisa duga. Itu harus lihat datanya. Kelihatannya ekspornya memang menunggu, sehingga mau enggak mau defisitnya makin besar. Lebih besar dari kuartal II persentasenya terhadap PDB maupun absolute-nya," ujarnya di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat malam (9/11/2018).


Kondisi ini, kata Darmin memang sudah berlangsung cukup lama, bahkan sejak Indonesia merdeka. Neraca dagang Indonesia selalu saja terbebani oleh impor yang lebih besar.

"Jangan lupa sejak merdeka kita selalu defisit, pernah mungkin beberapa kuartal tidak defisit. Tapi praktis selama paling tidak sejak orde baru lah, sejak 1997 transaksi berjalan kita itu pada dasarnya defisit, karena terlalu banyak produk yang tidak kita hasilkan tapi kita perlu," ujarnya.

Namun Darmin tak menyalahkan hal itu. Impor diperlukan terutama untuk bahan baku produk, baik barang setengah jadi maupun barang modal.

"Itu cerita sudah 40 tahun itu, memang perlu waktu kalau transaksi berjalannya," tambah Darmin.

Dia menjelaskan, sejatinya defisit neraca dagang bisa saja ditutupi oleh oleh pos transaksi modal dan finansial jika surplus. Menurut Darmin beberapa tahun ke belakang surplus transaksi modal dan finansial bisa menutupi defisit transaksi berjalan sehingga Neraca Pembayaran Indonesia defisitnya masih dalam batas aman.

"Sehingga kalau ditanya ini masalahnya serius atau tidak, ya tergantung, transaksi modal dan finansialnya surplusnya berapa," tambahnya.


Sebelumnya BI mencatat, transaksi modal dan finansial pada kuartal laporan mencatat surplus US$ 4,2 miliar, didukung oleh meningkatnya aliran masuk investasi langsung. Selain itu, aliran dana asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman luar negeri korporasi juga kembali meningkat.

Meskipun demikian, surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit transaksi berjalan, sehingga Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III 2018 mengalami defisit sebesar US$ 4,4 miliar.

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September 2018 menjadi sebesar US$ 114,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. (das/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com