Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 15 Nov 2018 12:06 WIB

Uber Rugi Rp 15 Triliun Jelang Go Public

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Uber mengungkapkan bahwa pihaknya mengalami kerugian US$ 1,07 miliar atau sekitar Rp 15 triliun (kurs Rp 15.000) dalam tiga bulan yang berakhir pada bulan September. Kerugian ini naik dari US$ 891 juta pada kuartal sebelumnya, karena perusahaan berinvestasi dalam layanan pengiriman makanan ke layanan kendaraan.

Namun lonjakan kerugian terjadi karena penjualan Uber sebagian besar stagnan di periode tersebut. Perusahaan mencatat penjualan US$ 2,95 miliar untuk kuartal tersebut, naik sekitar 5% dari kuartal sebelumnya dan peningkatan lebih dari sepertiga dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Tantangan yang dihadapi Uber selanjutnya adalah mengelola kerugiannya yang cukup besar sambil menunjukkan pertumbuhan penjualan yang cepat. Uber telah berulang kali mengatakan mereka berharap untuk go public pada 2019.


Ekspektasi Wall Street mungkin sangat tinggi untuk Uber. Perusahaan bernilai sekitar US$ 70 miliar menjadikannya sebagai startup AS yang paling bernilai tinggi. Nilai perusahaan tersebut diperkirakan naik menjadi US$ 120 miliar dalam IPO tahun depan.

"Ketika kami melihat untuk IPO dan seterusnya, kami berinvestasi dalam pertumbuhan masa depan di seluruh platform kami, termasuk dalam makanan, pengiriman, sepeda listrik dan skuter," kata Nelson Chai, CFO Uber dikutip dari CNN Business, Kamis (15/11/2018).

Uber telah melampaui tren skuter listrik dalam beberapa bulan terakhir. Uber meluncurkan armada skuter listrik di Los Angeles (LA) dan Austin, dan lebih banyak kota yang akan datang.

Dalam rilis pendapatan terbarunya, Uber menyoroti pertumbuhan yang tinggi dalam layanan pengiriman makanannya, Uber Eats. Pemesanan untuk layanan ini mencapai US$ 2 miliar untuk kuartal tersebut, lompatan lebih dari 150% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Bulan lalu, perusahaan mengumumkan bahwa Uber Eats akan berkembang untuk mencakup 70% dari populasi AS akhir tahun ini.


CEO Uber, Dara Khosrowshahi mengatakan dia yakin perusahaan tersebut diposisikan untuk membangun layanan yang menangani berbagai kebutuhan, selain hanya sekadar tumpangan.

"Kami dapat menjadi layanan sehari-hari anda, layanan makan sehari-hari anda dalam hal sarapan, makan siang. Saya pikir kami dapat memainkan bagian yang sangat besar dalam bagaimana pengiriman barang di seluruh negeri ini dan semoga juga internasional," katanya.

Pada saat yang sama, Uber terus memainkan ambisi globalnya. Chai mengatakan bahwa Uber berinvestasi di pasar-pasar potensial di India dan Timur Tengah.

"Kami terus memperkuat posisi kepemimpinan kami," tuturnya.

Namun, Uber juga menyerahkan bisnisnya di Asia Tenggara dan Rusia. Perusahaan menghadapi pengawasan atas hubungan bisnisnya dengan pemerintah Saudi di bangun dari pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.


Tonton juga 'Negara Rugi Rp 43 Triliun, Kemenhub Siap Tindak Truk 'Obesitas'':

[Gambas:Video 20detik]

(ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed