Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 16 Nov 2018 11:30 WIB

Pengusaha Berharap Bunga Acuan Bisa Kembali di Bawah 5%

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Muhammad Idris/detikFinance Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan BI di level 6% mempengaruhi ekspansi atau perluasan usaha di dalam negeri. Hal tersebut dijelaskan, Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani.

"Karena rupiah-nya kemarin melemah, jadi mau nggak mau antisipasinya seperti itu (menaikkan suku bunga acuan). Jadi kalau dari kalangan dunia usaha bisa memahami hal itu. Hanya memang kan kita berharap, suku bunga yang ideal itu kan yang di bawah 5%. Jadi ruang kita untuk ekspansi menjadi lebih murah begitu bunganya," jelas dia kepada detikFinance, Jumat (16/11/2018).

Ia menjelaskan, dengan kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan otomatis kebijakan tersebut akan direspons oleh bank-bank lainnya. Dampaknya, hal tersebut membuat rupiah kembali menguat terhadap dolar AS.

"Kita harapkan nanti di bulan Desember dan seterusnya mudah-mudahan rupiah bisa di bawah Rp 14.000 lagi. Nah kalau gitu dia pasti bisa dikoreksi juga oleh si BI ratenya ini," jelas dia.



Ia mengatakan, banyak cara untuk membantu rupiah pulih, salah satunya yaitu terus menekan impor dan menggenjot produksi untuk diekspor.

"Karena ini kan juga dipicu oleh defisit anggaran juga kan ya. Kemarin kan sudah diumumin lagi kan keluar lagi US$ 1,8 miliar. Impor migasnya besar, nah kalau itu kan sebenarnya nggak usah terjadi kalau pada waktu harga minyak itu mulai merangkak naik itu harga BBM nya kan ikut naik jadi tetap. Subsidinya kecil. cuma kan itu populis . Akhirnya gini kan," katanya.

"Jadi memang harus dilihat secara pragmatis dan realistis. Kalau populis susah, Memang ini sulit tapi gotong royong ya, kita benar- benar cari jalan keluar bersama sih," jelas dia.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed