Harga Minyak Capai US$ 70
Pelaku Pasar Diminta Tak Panik
Senin, 29 Agu 2005 11:36 WIB
Bandung - Lonjakan harga minyak hingga level US$ 70 per barel dituding sebagai dalang melemahnya rupiah. Namun pelaku pasar tetap diminta tidak panik. "Jangan panik, kita aman. Cash flow surplus, APBN 2006 aman, jadi jangan khawatir. Tidak ada alasan lagi bagi para pelaku ekonomi untuk panik," ujar Menteri Keuangan Jusuf Anwar.Mantan Ketua Bapepam ini menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Nasional bertajuk Good Corporate Governance di Hotel Grand Aquilla, Jalan Pasteur, Bandung, Senin (29/8/2005).Hadir pada kesempatan tersebut para Dirut BUMN, antara lain Dirut Pindad, Inti, PTDI, PT Pos Indonesia, PT Telkom, PT KA, PTPN, dan Indah Karya.Jusuf mengakui, penyebab anjloknya rupiah terhadap dolar dan membengkaknya defisit anggaran adalah lonjakan harga minyak dunia. "Tapi kita optimis rupiah akan stabil. Kita akan me-manage permintaan dolar yang tinggi agar iklim ekonomi positif," papar Jusuf.Kendati demikian, Jusuf mengimbau seluruh pihak tidak melakukan suatu hal yang kian memperburuk keadaan seperti memborong dolar dalam rangka spekulasi. Selain itu, Jusuf juga mengimbau BUMN yang mempunyai dolar di luar negeri dibawa kembali ke Indonesia untuk memperkuat cadangan devisa Indonesia.Soal revisi asumsi harga minyak dalam APBN-P 2005 yang dinilai sudah tidak sesuai kenyataan, Jusuf mengatakan bahwa hal itu harus dilakukan dengan seizin DPR. "Asumsi dan indikator ekonomi makro dibuat bersama-sama dengan DPR dan disetujui oleh dewan. Kita tidak bisa menset asumsi lain, karena bisa dianggap menyalahi kesepakatan. Nanti bisa protes," ujarnya.Rencananya, pemerintah dan DPR akan menggelar rapat pleno pada Selasa (30/8/2005) untuk memberikan jawaban mengenai pandangan semua fraksi.
(qom/)











































