Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 10 Des 2018 20:53 WIB

Perusahaan Cleaning Service Terbesar Dunia PHK Pegawai, RI Terdampak?

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Perusahaan jasa layanan kebersihan (cleaning service), jasa keamanan hingga parkir terbesar dunia asalDenmarkISS memutuskan hengkang dari 13 negara. Akibatnya 100.000 pekerjanya terancam kena PHK.

Bagaimana nasib pekerja ISS di Indonesia?

CEO PT ISS Indonesia Elisa Lumbantoruan memastikan, pekerja ISS di Indonesia tidak akan terkena dampak apa-apa. Setidaknya saat ini ada sekitar 56.000 pekerja ISS di Indonesia, ditambah 4.000-4.500 pekerja hasil dari kerja sama operasi (KSO). Dengan demikian totalnya ada sekitar 60.000 pekerja.

"Nah Indonesia nggak ada dampak apa apa, nggak ada perubahan," kata dia saat dihubungi detikFinance, Senin (10/12/2018).


Menurutnya bisnis ISS di Indonesia masih menjanjikan sehingga tidak akan terpengaruh apa-apa.

"Kalau saya sih lihatnya bagus sekali. Sebenarnya kalau dari sisi perspektif kita perusahaan ini ciptakan lapangan kerja banyak sekali. Sementara kalau dilihat dari sisi portofolio bisnis di Indonesia juga masih banyak," terangnya.

"Mereka juga lihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bagus, dan kalau misalnya prediksi banyak orang, Indonesia akan masuk top 10 ekonomi dunia, salah sih menurut saya kalau (ISS) meninggalkan Indonesia," lanjutnya.

Dia menerangkan, Indonesia menjanjikan karena penduduknya banyak, tenaga kerja yang tersedia juga banyak, Dari sisi bisnis yang digeluti ISS, menurutnya Indonesia paling bagus. Lain halnya dengan 13 negara lainnya yang mana ISS akan cabut dari sana.

"Kalau mereka tinggalkan Brunei, Filipina, kan nggak hanya ISS yang melakukan hal yang sama. Banyak perusahaan lain juga melakukan hal yang sama," ujarnya.


Dia pun menjelaskan bahwa dengan ISS cabut dari 13 negara bukan berarti 100.000 pekerjanya akan kehilangan pekerjaan. Yang terjadi adalah perusahaan tersebut di 13 negara berganti kepemilikan.

"Perusahaan ini yang ada di 13 negara ini, itu akan dijual ke pemilik baru. Tetapi kan pekerjaan itu tetap ada, karyawan tetap ada. Yang beda nanti adalah pemiliknya, pemiliknya akan jadi orang lain. Nah di 13 negara itu, saat ini karyawan ISS-nya sekitar 100.000. Jadi kalau di-PHK nggak benar itu," tambahnya.



(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com