Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 15 Des 2018 14:14 WIB

Butuh Rp 600 T Bikin Jakarta Bebas Macet Sampai 2029

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Untuk menjalankan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) hingga 2029 dibutuhkan pembiayaan sekitar Rp 600 triliun. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengungkapkan kebutuhan tersebut digunakan untuk proyek-proyek besar pemecah macet di Jabodetabek, salah satunya pembangunan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).

Kepala BPTJ Bambang Prihantono mengungkapkan kebutuhan pembiayaan ini tak hanya dari pemerintah pusat.

"Kami hitung kebutuhan investasi Rp 600 triliun untuk eksekusi. Investasi itu bukan hanya kewenangan pemerintah pusat tapi juga di Pemda di luar Kementerian PU, misalnya jalan tol," kata Bambang seperti dikutip dari Antara, Sabtu (15/12/2018).

Dia menyampaikan, dengan investasi tersebut, rencana penggunaan angkutan umum ditingkatkan menjadi 60% pada 2029 dibandingkan sebelumnya 20%. Kemudian untuk cakupan angkutan umum menjadi 80% dari sebelumnya 30%.

Sedangkan kecepatan rata-rata menjadi 30-40 km per jam dari 12 km per jam. Dan perpindahan moda tidak lebih dari tiga kali hingga pengadaan bus tambahan sebanyak 1000 unit.



Direktur Prasarana BPTJ Heru Wisnu mengatakan, akan dilakukan pembiayaan kreatif untuk mewujudkan RITJ. Misalnya menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) atau pembiayaan investasi non anggaran pemerintah (Pina).

Heru menyebut proyek yang dikerjasamakan adalah TOD Poris-Plawad serta MRT East-West.

"Salah satu pembiayaan KPBU adalah MRT East-West, di dalam RITJ juga kita luaskan 54 TOD sekitar Rp 150 triliun," imbuh dia.

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed