googletag.defineSlot('/4905536/detik_desktop/finance/pop_ups', [785, 440], 'div-gpt-ad-1574092191519-0').addService(googletag.pubads());
ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 30 Des 2018 11:44 WIB

Pasca Tsunami Selat Sunda, Bagaimana Nasib Bisnis Pariwisata?

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Warga dan Basarnas Sisir Pantai Tanjung Lesung. (Faiq-detikcom) Foto: Warga dan Basarnas Sisir Pantai Tanjung Lesung. (Faiq-detikcom)
Jakarta - Bisnis biro perjalanan wisata di akhir tahun ini tidak seperti yang diharapkan. Itu karena kondisi alam di Indonesia kurang begitu bersahabat. Belum lama ini, Banten dan Lampung dilanda tsunami setelah lebih dulu menerjang Palu.

Ketua Umum Associaton of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengatakan, seharusnya akhir tahun merupakan peak season, di mana jumlah wisatawan meningkatkan signifikan.

Sayangnya, bencana alam yang terjadi di penghujung tahun berdampak negatif

"Jadi potensi seharusnya kita peak season tahun ini, dan tentu juga ada pengaruh (dari bencana alam) gitu, baik kepada wisman (wisatawan mancanegara) maupun domestik," katanya saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (30/12/2018).

"Dampaknya pertama tentu dengan banyaknya kondisi (bencana alam) begini agak stuck lah ya, itu dalam arti peningkatan (wisatawan) tidak terjadi," jelasnya.


Dia mengatakan, daerah-daerah wisata yang terkena bencana otomatis tidak akan dikunjungi oleh wisatawan. Padahal akhir tahun jadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh biro perjalanan wisata. Pasalnya jumlah pengguna jasa perjalanan tersebut bakal meningkat.

"Tentu kita harapkan terutama wisman naik karena peak season, lalu domestiknya juga kita harapkan angka peningkatannya juga cukup tajam ya. Tapi kenyataannya sekarang stuck, artinya mungkin kenaikannya tidak seperti tahun lalu gitu," ujarnya.

Di tengah kondisi saat ini, dia mengatakan wisatawan lebih banyak berkunjung ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh atau bisa diakses menggunakan mobil pribadi.


"Pergerakan yang terjadi hanya lintas provinsi saja paling banyak, dan bagi biro perjalanan itu tidak menguntungkan karena pake kendaraan sendiri. Jadi bagi kami di industri ini sebuah hal yang kurang menguntungkan," tambahnya. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com