"Namun demikian tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Aceh lebih baik dari tahun sebelumnya karena pertumbuhan ekonomi Aceh sekitar 4 persen lebih tetapi inflasi Aceh jauh turun dapat ditekan," kata Zainal, Jumat (4/1/2018).
Zainal menjelaskan pada 2017 pertumbuhan ekonomi Aceh 4,19% dengan tingkat inflasi 4,25%. Sementara di 2018, pertumbuhan ekonomi tetap pada kisaran 4%, tapi inflasi turun ke 2%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun ini inflasi Aceh cukup rendah. Artinya kita boleh berbangga, kita mampu, inflasi Aceh lebih rendah dari rata-rata Nasional dan lebih rendah dari rata-rata provinsi di Indonesia," kata Zainal.
Dia menjelaskan angka inflasi Aceh lebih rendah maka dapat dipastikan daya beli masyarakat selama ini cukup terjaga. Hal itu membuktikan masyarakat masih mampu membeli barang dengan harga yang relatif stabil, dengan pendapatannya juga terbilang tetap.
"Kalau harga barang tinggi maka masyarakat akan mengurangi konsumsinya karena tidak mampu membeli dengan jumlah yang sama sebelum terjadinya inflasi," katanya.
Selain itu, angka inflasi 2% terwujud karena kerja-sama yang baik antara Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengendalikan pertumbuhan ekonomi. Sinergitas dengan pihak terkait juga dinilai sangat baik.
"Tim pengendalian inflasi daerah bekerja dengan sangat baik, sinergi yang baik dengan institusi lainnya seperti Bulog yang sangat berperan hebat dalam mengendalikan harga beras, harga beras itu termasuk kontributor utama penyebab inflasi di Aceh," tutur Zainal










































