Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 11 Jan 2019 21:07 WIB

Di Depan Investor China, Luhut: Partner Lokal Tak Boleh Ditawar

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Puti Aini Yasmin/detikcom Foto: Puti Aini Yasmin/detikcom
Jakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bertemu investor/calon investor China yang mengembangkan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) kemarin malam, Kamis (10/1/2019). Dalam sebuah gelaran makan malam, Luhut mengatakan pemerintah sangat mendorong pengembangan kawasan industri namun dengan syarat.

"Pemerintah akan membantu agar ini bisa dikembangkan menjadi kawasan ekonomi khusus tetapi syaratnya, Anda harus menggandeng partner lokal. Hal ini tidak boleh ditawar. Tentunya kerjasama itu harus menguntungkan kedua belah pihak," katanya dalam keterangan tertulis.


Luhut mengatakan, pemerintah tengah mengintegrasikan industri hulu ke hilir dalam satu kawasan untuk mengurangi impor.

"Kalau sekarang di wilayah ini produk yang dihasilkan sudah sampai carbon steel (baja karbon) kami berharap nanti akan dihasilkan juga produk turunan lainnya. Begitu juga dengan baterai, dari industri hulu hingga produk akhirnya bisa dikerjakan di sini," terangnya dalam keterangan tertulis, Jumat (11/1/2019)

Luhut juga menyarankan agar produk baterai yang dihasilkan nantinya difokuskan pada baterai untuk sepeda motor, lalu baterai untuk kendaraan umum, setelah itu baterai untuk kendaraan pribadi.


Kerja sama dengan partner lokal bukan saja di bidang industri, Luhut bilang, Universitas Tsinghua dari Beijing telah menyatakan keinginan mereka untuk mendirikan pusat riset di Morowali. Serta, akan bekerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia seperti ITB dan lainnya.

Hadir juga dalam acara ini, Maniwanen, CEO dari Busana Aparel Grup yang mewakili sektor swasta. Maniwanen sendiri memuji kawasan industri ini.


Selanjutnya, dia mengatakan, tenaga kerja China tak akan berlama-lama di kawasan ini karena upahnya tinggi.

"Secara biaya, kawasan ini sangat efisien otomatis biayanya bisa dihemat banyak. Setelah berkeliling tadi, saya tidak percaya akan pernyataan orang yang mengatakan ini bentuk invasi Cina, tidak ada itu. Mereka datang ke sini membawa modal. Tenaga kerja asing yang dari Cina itu datang ke sini kan gajinya dua kali atau tiga kali lipat. Mereka tinggalkan keluarga di sana untuk datang ke sini. Pasti perusahaan juga tidak mau berlama-lama memperkerjakan orang asing ini," paparnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed