Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 15 Jan 2019 13:28 WIB

Neraca Dagang Tekor US$ 8,57 M, Terbesar Sejak Tahun 70-an

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Mindra Purnomo/Infografis Foto: Mindra Purnomo/Infografis
Jakarta - Angka defisit neraca perdagangan pada tahun 2018 menjadi yang paling besar semenjak tahun 1975. Total angka defisit neraca perdagangan tahun 2018 sebesar US$ 8,57 miliar.

Angka defisit itu didapat dari total ekspor Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$ 180,06 miliar. Sementara impor di bulan yang sama tercatat US$ 188,63 miliar.

"Ya memang 2018 ini (defisit) memang besar," kata Suhariyanto di kantor pusat BPS, Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Menurut Suhariyanto, jika melihat ke belakang maka realisasi defisit neraca perdagangan tahun 2018 memang paling terbesar semenjak 1945. Hanya saja, BPS tidak mencatat secara rinci realisasi neraca dagang di saat Indonesia merdeka.

"Kalau kita mundur ke belakang, ada defisit di 2012 mengalami defisit US$ 1,7 miliar, 2013 defisit US$ 4,08 miliar, 2014 defisit US$ 1,89 miliar, 1975 defisit US$ 391 juta. 1945 defisit, tapi kita angkanya terputus di 1945," ujar Suhariyanto.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti mengatakan, defisit yang terjadi pada masa silam tidak sebesar yang terjadi di tahun 2018.

"Nggak, kayanya ini (2018) yang paling besar. Tapi sejak kapannya ini kita belum mau menyebut," kata Yunita.



Catatan kegiatan ekspor dan impor sudah ada sejak zaman Belanda. Hanya saja, BPS masih merapikan data-data tersebut, sehingga data yang sudah tersaji rapi tercatat sejak 1975.

"Kalau yang saya sudah yakin ini dari 1975 (defisit). Karena kalau yang sebelum itu kami lagi kumpulin lagi," jelas dia.

Sementara itu, Direktur Statistik Distribusi BPD Anggoro Dwitjahyono menjelaskan selama Indonesia merdeka neraca perdagangan telah mengalami defisit sebanyak enam kali. Yaitu, pada 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018.

"Defisit neraca perdagangan 2018 ini memang besar. Untuk 1945 terjadi defisit, tapi angka kami terputus di 1945," ungkap Anggoro.

(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed