Akibat Pencurian Listrik, PLN Riau Rugi 30 Miliar

Akibat Pencurian Listrik, PLN Riau Rugi 30 Miliar

- detikFinance
Jumat, 09 Sep 2005 17:21 WIB
Pekanbaru - Pencurian arus listrik masih saja marak di Riau. Akibatnya, sepanjang tahun 2005 PLN Cabang Riau mengalami kerugian sebesar Rp 30 miliar. Namun YLKI Riau justru menuding, kerugian itu terjadi karena bobroknya kinerja PLN.Untuk mengatasi kerugian ini, pihak PLN Cabang Riau menggelar razia terhadap para pelaku pencuri arus listrik. Pelaksanaan razia ini diberlakukan secara nasional sesuai dengan kesepakatan Direktur Utama PLN dan Kepala Kepolisian."Kita mengerahkan sekitar 100 pertugas PLN dan personil polisi hinga dua minggu kedepan. Tim ini akan menyisir sejumlah lokasi yang selalu terjadi kebocoran listrik. Razia ini meliputi pusat industri dan rumah tangga," kata General Manager PT PLN Cabang Pekanbaru, Ahmat Taufik Haji melalui Manager Niaga PT PLN Wilayah Manager Niaga PT PLN Wilayah Riau Daniel S Bangun, di Pekanbaru, Jumat (09/09/205)Taufik menjelaskan, modus pencurian listri selam aini biasanya dilakukan dengan penyambungan langsung aliran listrik serta perusakan segel. Selain itu kerugian PLN juga karena kerusakan travo dan instalasi lainnya.Adanya pencurian listrik selama tahun 2005 ini, kata Taufik, dapat dilihat dari susutnya energi listrik. Dari 400.000 pelanggan tampak pengguna listrik dengan beban puncak 200 megawatt mencapai 17 persen. Padahal batas maksimalnya hanya sekitar 10 persen."Kemungkinan adanya kesalahan penghitungan di PLN sendiri, hanya dimaklumi jika terjadi peningkatan dua persen dari angka batas maksimal. Kelebihan lima persen angka batas maksimal sudah dikategorikan ada penyimpangan dan diduga keras berupa pencurian listrik oleh warga maupun pelaku industri," kata TaufikMenurutnya, kasus pencurian arus listrik ini harus segera diatasi. Bila tidak PLN Pekanbaru dan juga Riau terancam mengalami krisis energi. Sebab, pembangkit listrik yang terpusat di PLTA Koto Panjang, Riau dan dari interkoneksi Sumatera Bagian Selatan membutuhkan pembiayan besar serta kontinu," katanya.Saat ini, kebutuhan listrik Riau mencapai 200 megawatt dengan beban puncak sekitar 120 MW dipenuhi dari pembangkit PLT Koto Panjang, Riau. Sekrang kondisi PLTA itu melemah akibat kekeringan air dibendungan pada musim kemarau. Sementara, sisanya 80 MW lagi dari interkoneksi dengan Sumatera Bagian Selatan.Sementara itu, Direktur YLKI Riau, Andreas Hery Khahurifan kepada detikcom mengatakan, data kerugian yang dimumkan pihak PLN secara nasional juga berbau politis. Tujuan tidak lain, karena dalam waktu dekat akan ada kenaikan harag pemaiakan listrik. "Pengumuman kerugian itu, hanya politis saja, karena PLN akan menaikan tarifnya," kata Andreas.Kerugian yang dialami PLN secara nasional maupun di Riau sendiri, menunjukan betapa bobroknya kinerja PLN itu sendiri. Penucurian lsitrik yang terjadi di Riau, tidak terlepas adanya kerja sama oknum PLN dengan pihak industri dan rumah tangga."Jangan salahkan warga kalau mereka mencuri arus listrik. Sebab, mereka mengurus untuk mendapatkan jaringan dari PLN juga bertahun-tahun lamanya. Disinilah letak permainan oknum PLN dengan warga yang mencuri arus listrik," kata Andreas.Data keluhan PLN yang diterima YLKI Riau, menunjukan angka lebih dari 5.000 kasus dalam setahun. Baik soal tagihan rekening membengkak, rumah warga terbakar karena arus pendek, serta lamanya mengurusan masuknya PLN. "Malah ada warga sudah mengrus sejak tahun 2002 silam, hingga kita belum juga mendapat arus lsitrik. Alasannnya, selalu saja PLN Riau mengaku kekurangan energi," kata Andreas. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads