Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 16 Jan 2019 13:44 WIB

Brexit Bikin Stres Pedagang Valas

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Inggris berencana untuk keluar dari Uni Eropa dalam waktu beberapa bulan kemudian. Namun saat ini masih terjadi negosiasi antara parlemen dan Perdana Menteri Inggris, Theresa May.

Mengutip CNN, Rabu (16/1/2019), anggota parlemen Inggris diharapkan menolak keras kesepakatan pemisahan diri ini. Pemisahan disebut-sebut akan mempengaruhi kondisi perekonomian negara, seperti nilai tukar mata uang.

Analis dari CMC Markets, Jochen Stanzl menjelaskan pound bisa melemah ke kisaran US$ 1,24. Memang, mata uang ini terus merosot dan menjelang pemungutan suara pound sudah mendekati US$ 1,27.

Kemudian perusahaan pengiriman uang TransferWise menyebut akan melakukan pembatasan konversi Euro baik masuk atau keluar dari Inggris. Ini dilakukan karena ada kemungkinan volatilitas nilai tukar akan terus bergerak.



Sementara itu menurut analis strategi Societe Generale, Kit Juckes menjelaskan saat ini masih ada 'pelindung' untuk pound. Apabila negosiasi May tidak disetujui, itu memungkinkan Brexit ditunda atau dibatalkan.

Namun kondisi menjelang pemungutan suara memang sulit diprediksi. Menurut dia semua negosiasi bisa hancur jika berbagai fraksi di parlemen berusaha mengendalikan Brexit.

Memang Inggris akan pergi dari Uni Eropa pada Maret 2019. Namun banyak kabar yang mewarnai proses ini misalnya Inggris keluar tanpa kesepakatan, kemudian referendum kedua atau runtuhnya pemerintahan May. Lalu juga ada spekulasi yang menyebut bahwa Brexit akan tertunda.

Kondisi ini merupakan tantangan berat untuk pedagang mata uang. Pasalnya nilai tukar bisa bergerak liar.

"Sulit sekali memprediksi apa yang akan terjadi. Semua kemungkinan bisa terjadi," kata seorang pedagang bernama Stanzl dikutip dari CNN, Rabu (16/1/2019).

Analis pasar uang di Inggris menyebut, kepastian terkait Brexit sangat penting bagi pergerakan pound. Capital Economics memprediksi pound bisa naik ke kisaran US$ 1,45 pada 2020 jika kesepakatan yang diajukan May disetujui. Namun pound juga bisa jatuh sejatuh-jatuhnya ke posisi US$ 1,12.


(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com