Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 18 Jan 2019 13:12 WIB

Impor Diperketat, Pengusaha Mesir Tetap Buru Produk Elektronik RI

Hans Henricus BS Aron - detikFinance
Foto: Dok. KBRI Kairo-Mesir Foto: Dok. KBRI Kairo-Mesir
Jakarta - Produk elektronik rumah tangga buatan Indonesia diminati pasar Mesir. Meski pemerintah negeri Pyramid itu memperketat sektor perdagangan elektronik dengan menaikkan bea masuk, pengusaha Mesir tetap mengimpor produk unggulan Indonesia.

Contohnya Ahmed Ragab El Kalla. Guna memuluskan ekspansi produk Indonesia di pasar Mesir, pemilik perusahaan Kalla for Import & Export Co ini berkunjung ke Indonesia selama empat hari, 15-18 Januari 2019. Selama ini Al Kalla Group Mesir merupakan agen utama sejumlah perusahaan Indonesia .

Lima tahun terakhir, Al Kalla Group Mesir telah melakukan transaksi dengan PT Maspion, PT Kencana Gemilang (Miyako) dan PT. Hartono Istana Teknologi (Polytron). Produk elektronik rumah tangga yang diimpor antara lain kipas angin, water dispenser, sound system, televisi LED 32 inch, blender, food prosessor dan chooper, dengan total transaksi selama 5 tahun mencapai US$ 20 juta.


Tahun lalu, Al Kalla Group telah mengimpor produk elektronik Indonesia senilai US$ 7 juta. Produk elektronik Indonesia ini dipasarkan di Mesir dengan merek dagang "Black & White". Produk ini laris manis di pasar Utara dan Selatan Mesir.

Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Helmy Fauzi, menjelaskan negeri 1.000 Menara ini menerapkan regulasi pengetatan impor barang elektronik, termasuk dengan mengharuskan 30-40% komponen dirakit dan dibuat di Mesir. Oleh karena itu, para importir termasuk Kalla harus menyiapkan pabrik perakitan elektronik jika ingin tetap berdagang produk Indonesia.

"Kualitas produk elektronik rumah tangga Indonesia sudah dikenal baik dan memiliki prospek yang cukup besar di pasar Mesir," ujar Dubes Helmy di KBRI Kairo, dalam keterangan tertulis, Jumat (17/1/2018), .

Karena itu, dirinya mengapresiasi keseriusan Kalla dalam berbisnis produk Indonesia di Mesir. Menurut Dubes Helmy, pendirian pabrik perakitan milik Kalla di kawasan industri Quwesna, Provinsi Menoufiya ini adalah salah satu trik bisnis cerdas dalam menghadapi perubahan regulasi perdagangan. Sebab, produk elektronik Indonesia dapat memungkinkan dirakit di pabrik tersebut dengan cara mengimpor komponen-komponen elektronik dari Indonesia.


"Dengan demikian, produk elektronik kita akan tetap dapat dijual di Mesir dengan harga terjangkau," kata Helmy.

Kegiatan Al Kalla Group dalam berbisnis dengan Indonesia semakin menguatkan anggapan Mesir sebagai salah satu mitra dagang non-tradisional penting. Terlebih, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga telah berulang kali mengajak para pebisnis Indonesia untuk melihat pasar Afrika.

"Mesir adalah negara potensial untuk menjadi entry point bagi produk Indonesia guna memasuki benua Afrika," tutur Helmy.

Atase Perdagangan KBRI Cairo, Irman Adi Purwanto Moefthi menambahkan selama di Indonesia, pihak KBRI Kairo telah mengatur sejumlah pertemuan penjajakan bisnis antara pengusaha Indonesia dan Ahmed Ragab El Kalla.


Selain itu, Kalla juga dijadwalkan bertemu dengan pejabat di lingkungan Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI pada 18 Januari besok. Terkait rencana pengembangan kemitraan dengan pebisnis Indonesia, Irman menguraikan pihaknya juga sudah berkunjung ke kantor Al Kalla Group di kawasan pusat kota Kairo pada 4 Januari lalu.

"Kami berharap kemitraan Al Kalla Group dengan pebisnis Indonesia tetap semakin terjaga dan terus meningkat sehingga produk Indonesia terus mendominasi pasar lokal dan Al Kalla Group tetap menjadi Raja produk elektronik rumah tangga di Mesir," tandas Irman.

Data Badan Statistik Mesir (CAPMAS) menunjukkan kinerja impor sejumlah produk elektronik Indonesia ke Mesir mengalami kenaikan yang signifikan pada tahun 2018. Impor lemari pendingin (HS Code 8418) pada periode Januari-Agustus 2018, misalnya, mencapai US$ 9,073 juta atau naik sebesar 1,252% dibanding periode sama tahun 2017 lalu yang hanya sebesar US$ 671 ribu. Selain itu, impor mesin dan aparatus elektrik (HS Code 8543) pada Januari-Agustus 2018 mencapai US$ 970 ribu. Angka ini naik 4,519% dibandingkan nilai impor produk serupa pada tahun 2017 yakni US$ 21 ribu. (hns/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com