Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 19 Jan 2019 11:54 WIB

Cerita JK Soal Bisnis Wartel yang Habis Tergerus Teknologi

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)/Foto: Eduardo Simorangkir/detikFinance Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)/Foto: Eduardo Simorangkir/detikFinance
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bercerita bagaimana teknologi membawa perubahan-perubahan pada cara orang melakukan bisnis saat ini. Salah satunya dapat dilihat pada bisnis wartel atau warung telepon yang sempat ramai pada awal tahun 1990-an.

Seiring berkembangnya teknologi, bisnis wartel tersebut kini telah ditinggalkan. Kini bisnis wartel diganti oleh penjualan pulsa lantaran banyak orang sudah memiliki telepon genggam tanpa perlu lagi harus ke wartel.

"Dulu tahun 80-an bisnis paling ramai semua datang untuk bertelepon tengah malam karena murah. Sekarang wartel tutup, tapi ada penjual pulsa. Jadi suatu pekerjaan berubah tapi job-nya tetap ada," katanya dalam sebuah acara di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1/2019).

JK mengaku pernah salah kaprah dengan pernyataan salah seorang yang dia ikuti di suatu seminar yang menyatakan bahwa di masa depan, segala transaksi akan ada di kantong. Saat itu dia mengaku bingung dengan pernyataan tersebut.

"Awal 90-an saya pernah mengikuti seminar yang mengatakan semua transaksi itu akan ada di kantong. Saya bilang ini apa. Itu kejadian 25 tahun yang lalu. Pada waktu itu telepon wireless masih terbatas. Kemudian beberapa tahun kemudian HP masuk, dan nggak ada lagi telepon yang berdering di rumah tapi di kantong. Sekarang saya kira sudah terbukti semua bahwa semua transaksi memang dilakukan lewat HP kita," ujar JK.

Namun menurut JK, cara berbisnis saat ini memang berubah tapi kebutuhannya tetap sama. Kebutuhan orang untuk berkomunikasi tetap menjadi peluang, namun kini mengambil peluang bisnis dengan cara berbeda. Dari fakta tersebut, dia yakin berkembangnya teknologi tak bakal membuat manusia kehilangan pekerjaannya karena kebutuhan orang-orang masih tetap sama.

"Karena itulah peluang-peluang itu harus diantisipasi. Bahwa sistem berubah tapi kebutuhan tetap. Cuma cara kita memenuhi kebutuhan itu berbeda. Caranya yang berubah tapi kebutuhannya tidak, tetap sama," kata JK.



(eds/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed