Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Jan 2019 16:53 WIB

Temui Jokowi di Istana, Nelayan Sebut Cantrang Ramah Lingkungan

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Presiden Jokowi mengundag ratusan nelayan makan siang di Istana. (Jordan-detikcom) Foto: Presiden Jokowi mengundag ratusan nelayan makan siang di Istana. (Jordan-detikcom)
Jakarta - Sejumlah nelayan dari berbagai wilayah Indonesia datang ke Istana Negara, Jakarta Pusat. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang para nelayan itu makan siang di Istana dan berdialog.

Saat berdialog, Presiden Jokowi mendapatkan banyak informasi dari nelayan termasuk masalah alat tangkap cantrang yang pernah jadi polemik.

Salah satu nelayan yang menyampaikan keluh kesahnya soal alat tangkap cantrang adalah Agus Mulyono yang merupakan nelayan asal Lamongan, Jawa Timur.


Di depan Jokowi yang didampingi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dirinya menyebutkan bahwa alat tangkap cantrang menyejahterakan dan ramah lingkungan.

"Jadi kita ini bukan dikasih alat itu alat ini ternyata tidak cocok, karena masing-masing daerah itu beda, karakteristik ikannya beda," kata Agus di Istana Negara, Jakarta, Selasa (22/1/2019).

Dia menyampaikan, seperti ikan bintik yang memiliki tubuh kecil dan tidak bisa tumbuh seperti ikan pada umumnya. Menurut pengakuannya, tidak ada alat tangkap yang bisa menangkap.

"Namanya ikan bintik itu Pak, walaupun 10 tahun nggak ada yang 1 kg Pak tetap kecil, dan itu tidak ada alat yang bisa menangkap, dan kalau sudah musimnya kalau tidak ditangkap ya sudah hilang terbawa arus, rugi sendiri nelayan," ujar dia.

Lanjut Agus, sedikitnya jumlah produksi ikan di perairan Indonesia lebih dikarenakan musim, bukan alat tangkap seperti cantrang.

"Jadi ikan itu musiman Bapak, bukan punah karena cantrang, salah besar, cantrang itu bukan alat punah, alat menyejahterakan dan ramah lingkungan, IPB tanya bapak ramah lingkungan dan semuanya sudah dikaji," tegas Agus.

Dia pun berterima kasih kepada Presiden Jokowi karena telah memperbolehkan kembali nelayan cantrang melaut. Keputusan itu dianggap menghidupkan kembali para nelayan.

"Cantrang melaut lagi, cantrang melaut lagi, Pak Jokowi yes, ke depan saya Bu Susi No, terima kasih bapak, terimakasih. Rasanya teman-teman ini bernafas, hidup, dan kita ini ramah lingkungan," ujar dia.

Selain itu, Agus juga menyampaikan soal sulitnya pengurusan izin kapal di era Menteri Susi Pudjiastuti. Padahal, semua nelayan di Indonesia butuh pembinaan, fasilitas, dan BBM yang mudah didapat.

Sebelum melanjutkan aspirasinya, Presiden Jokowi menanyakan berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mengurus perizinan kapal.

"Perizinan itu kalau cari izin berapa hari, berapa bulan?," tanya Jokowi.


"Semenjak Bu Menteri (Susi) ini lama, lama, lama, lama dan tidak keluar izin, padahal bapak silahkan melaut, sudah memperbolehkan, Bu Susi waktu di mobil komando juga silahkan melaut ini demi Pak Jokowi ya, iya, tapi suratnya nggak keluar sampai sekarang," timpal Agus.

Menanggapi itu, Presiden Jokowi mengaku akan menggunakan aspirasi para nelayan sebagai modal memperbaiki kebijakan-kebijakan ke depannya.

"Tapi saya sudah nangkep lah tentang cantrang, tentang tambak, budidaya ikan. Semuanya keluhan-keluhan itu yang terus kita pakai untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan kita," ungkap Jokowi. (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed