Pembicaraan keduanya dilakukan saat Luhut menghadiri High Level Dialogue on Zero Budget Natural Farming di Davos, Swiss. Dia melakukan komunikasi via sambungan video Davos-New Delhi.
"Kami akan mengirim perwakilan 6 Kabupaten bulan depan ke Andhra Pradesh. Kami harap mereka dapat dilatih dalam satu kurun waktu sehingga mereka bisa bawa pulang teknologi dan pengetahuan tersebut ke Indonesia, sehingga kami bisa meningkatkan kualitas petani Indonesia," kata Luhut dilansir dalam keterangan tertulis, Rabu (23/1/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mau mengurangi penggunaan pupuk kimia, karena membawa dampak negatif terhadap kesehatan dan tingginya biaya yang harus ditanggung petani," ujarnya.
Pemerintah Andhra Pradesh (sebuah negara bagian di India) sendiri telah mengimplementasikan program ini sejak 2016 dengan melibatkan 40.000 petani. Jumlah ini berkembang menjadi 523.000 orang petani pada 2018.
Dengan ZBNF, produksi padi di Andhra Pradesh dapat ditingkatkan sampai 15%, kacang tanah 26%, sedangkan kapas 10%.
"Saya percaya ini bisa membantu Indonesia mengurangi kemiskinan. Kami ingin bergerak cepat," tutur Luhut.
Dengan ZBNF, dipercaya pertanian Indonesia bisa menghindari penggunaan pupuk. Selain lebih ramah lingkungan, hal itu juga bisa mendorong penghematan.
"Indonesia dan India memiliki kesamaan nasib, yaitu subsidi pupuk kimia. Jika kita bisa survive lebih baik tanpa subsidi dan bahkan tanpa pupuk kimia, maka itu adalah sebuah solusi yang win-win terutama untuk planet ini," kata Asisten Sekjen PBB untuk program lingkungan, Satya Tripathi.
Dia berharap Indonesia dan Andhra Pradesh dapat berkolaborasi demi kebaikan bersama dan dunia.










































