Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 23 Jan 2019 22:00 WIB

Sri Mulyani Minta Bantuan Kemenag Jelaskan Utang Pemerintah

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Hendra Kusuma/detikFinance Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Utang pemerintah selalu menjadi topik pembicaraan yang seksi di berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya adalah karena jumlahnya yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) saja, selama empat tahun utang bertambah Rp 1.809,6 triliun atau totalnya Rp 4.418,3 triliun di 2018.

Pemerintah terus menyuarakan bahwa utang pemerintah masih aman meskipun nominalnya ribuan triliun. Amannya utang pemerintah terlihat dari rasionya terhadap PDB yang masih jauh di bawah batas UU Keuangan Negara.


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun ingin melibatkan banyak kalangan untuk menjelaskan utang pemerintah kepada masyarakat. Sri Mulyani meminta bantuan pegawai Kementerian Agama (Kemenag) untuk menjelaskan mengenai utang pemerintah.

"Karena bapak ibu dari Kementerian Agama, sering sekali utang itu dijadikan topik yang seksi, saya mohon bantuan, karena saya ke sini bukan hanya untuk memberikan ceramah, saya boleh minta bantuan dong," kata Sri Mulyani dalam acara Rakernas Kementerian Agama Tahun 2019 dengan tema "Akselerasi Manajemen Keuangan Kementerian Agama di Hotel Shangri-La, Jakarya, Rabu (23/1/2019).

Alasan Sri Mulyani meminta bantuan para pegawai Kementerian Agama adalah karena ada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang gedungnya dibangun oleh utang dalam hal ini surat berharga syariah negara (SBSN).

"Pertama saya mohon Kemenag itu ikut bantu saya menjelaskan masalah utang, susah ya, nggak bisa bu, tapi bisa juga, berapa di sini yang rektor IAIN, atau pengurus, 60, berapa banyak kampusnya yang dibangun uang negara, semua, berapa banyak yang kampusnya dibangun oleh SBSN, ya itu mestinya bapak bicara dong, itu adalah instrumen utang," ujar Sri Mulyani.


Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan bahwa utang merupakan instrumen yang boleh dimanfaatkan. "jadi saya tidak mengatakan utang itu bukan sesuatu yang najis," tambahnya. (hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com