Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 29 Jan 2019 21:30 WIB

Darmin Pertanyakan Data Kementan soal Panen Jagung: Faktanya Mana?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Menko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Puti Aini Yasmin/detikcom Menko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Puti Aini Yasmin/detikcom
Jakarta - Pemerintah kembali membuka keran impor jagung untuk pakan ternak. Kali ini, pemerintah membuka impor tanpa kuota.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan impor jagung kembali dibuka karena pasokan kurang. Sebelumnya pemerintah telah membuka impor jagung dua kali sejak 2018 yakni sebanyak 100 ribu ton dan 30 ribu ton.

Darmin mengatakan saat diputuskan impor 100 ribu ton ada informasi dari Kementerian Pertanian (Kementan) pasokan jagung akan cukup karena masuk panen, tapi, ternyata permintaan dari peternak masih banyak.


"Pada waktu kita putuskan impor 100 ribu ton, itu kita itu informasi yang ada itu jagung surplus, atau bukan surplus, akan segera panen, dan kalau panen akan surplus. Udah, kita impor yang 100 ribu. Nah, begitu 100 ribu selesai masuk, permintaannya masih banyak dari peternak-peternak kecil dan menengah baik petelur maupun pedaging," kata Darmin di kantornya, Selasa (29/1/2019).

Darmin kemudian meminta agar Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Perum Bulog memastikan kondisi di lapangan terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.


"Rapat hari Selasa lalu, kita menugaskan Bulog untuk mengecek, hari Kamis kita rapat lagi. Dua hari setelah ditugaskan mengecek, mereka kemudian turun ke lapangan, saya juga minta bantuan Gubernur Jawa Timur turun ke lapangan. Ada semua angka-angkanya bahwa di Jawa Barat panen itu belum ada, yang sayangnya emang datanya bilang sudah ada," paparnya Darmin.

Soal data, Darmin mengatakan berasal dari Kementan. Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini menyebut, data Kementan terjadi panen pada Januari tapi ternyata tidak.

"Ya artinya datanya memang dari data Kementan, ya artinya Januari sebenarnya mestinya sudah ada panen kalau menurut data. Tapi faktanya, mana, peternak, mereka bilang, ini peternak kecil menengah ini kan susahnya. Dia bilang, kalau harganya tinggi begini kita jual aja ini ayam. Jual jadi pedaging, kan repot," tutup Darmin.


Dibatasi medio Maret

Darmin memperkirakan, panen baru ada sekitar pertengahan Maret untuk di Jawa Barat dan April di Jawa Timur. Selain itu, karena permintaan terus datang sementara pasokan minim, maka perlu ditambah melalui impor.

Impor jagung kali ini pemerintah tidak memberikan batas kuota, tapi jangka waktu impor dibatasi hingga pertengahan Maret karena bertepatan dengan musim panen.

"Cuma kita tidak boleh mengimpor pada waktu panen nanti terjadi, sehingga yang kita berikan adalah kita berikan plafon kepada Bulog. Anda boleh impor tapi nggak boleh masuk lebih dari pertengahan Maret supaya jangan nanti ada jagung impor, ada jagung produksi dalam negeri," ujarnya.


"Kalau hanya bisa diimpor 100 ribu ya 100 ribu, kalau kurang dari situ ya kurang dari situ, pokoknya batasnya pertengahan Maret, nah itu baru diproses sekarang," ujarnya.

Sebelumnya Kementan mengklaim pada Januari-Maret akan ada panen jagung sebanyak 10 juta ton. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi mengatakan panen telah terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur. Adapun angkanya mencapai hingga 84.000 ton.

"Sudah panen di Jawa Timur. Itu sampai akhir bulan ada 84.000 ton," kata di kepada detikFinance, Senin (14/1/2019).

Lebih lanjut, ia mengatakan selain di Jawa Timur, panen juga akan terjadi di 18 daerah hingga bulan Maret. Sehingga jumlah panen jagung akan bertambah hingga 10 juta ton.

"Sentra memang Jatim, Jateng, Lampung, NTB, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat. Itu mungkin ada 18 provinsi. Itu (tambahan panen) sekitar 10 juta ton Jagung," jelas dia. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com