Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 06 Feb 2019 14:05 WIB

Impor 100.000 Ton Jagung di Akhir 2018, Mentan: untuk Peternak

Eko Sudjarwo - detikFinance
Foto: Eko Sudjarwo Foto: Eko Sudjarwo
Jakarta - Pemerintah membuka keran impor jagung. Kebijakan membuka keran impor ini diambil untuk menutup kekurangan pasokan jagung bahan baku pakan untuk peternak.

"Dulu pada tahun 2014 kita impor 3,53 juta ton nilainya Rp 10 triliun, kemudian 2017 tidak ada impor jagung. Kemudian di akhir tahun kita impor jagung 100 ribu ton, karena untuk menyelamatkan peternak kita yang sebanyak 2,5 juta orang," kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman di sela acara panen raya jagung di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Rabu (6/2/2019).

Dikatakan oleh Amran, target saat ini adalah membalik sejarah dari impor 3,5 juta ton menjadi ekspor. Kalau tahun 2018 bisa ekspor sebanyak 380 ribu ton jagung, kata Amran, mudah-mudahan tahun ini bisa 500 ribu ton gang akan dilakukan dalam satu atau dua bulan ke depan.

"Yang terpenting adalah dulunya kita impor 3,5 juta ton dari Amerika dan Argentina, hari ini kita sudah tunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa ekspor, membalik impor menjadi ekspor," kata Amran.

Sekarang, lanjut Amran, bagaimana ke depan bisa meningkatkan lagi ekspor jagung ke depan. Jagung yang akan diekspor, termasuk hasil panen dari Lamongan dan juga dari Gorontalo dimana Gubernur Gorontalo menjanjikan akan ekspor sebanyak 150.000 ton.


"Ada kemarin masalah yang harus diketahui publik dan ini harus clear. Kenapa kemarin kita impor 100 ribu ton, padahal kita ekspor 380 ribu ton," tandasnya.

Memasuki panen raya, lanjut Amran, pihaknya juga sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat harga jagung yang juga masih stabil antara Rp. 3400 sampai Rp 3.600. Untuk mengantisipasi turunnya harga, Amran juga mengajak Bulog untuk menyerap.

"Dan itu perintah bapak Presiden, jangan biarkan petani merugi, tetapi peternaknya juga merasa untung. Itu kesepakatan kita dalam rapat," tegasnya.

Dalam kesempatan panen raya jagung di Lamongan ini, Amran juga berkesempatan mempertemukan peternak dari sejumlah daerah yang merasa kekurangan stok jagung dengan petani jagung dari Lamongan. Di hadapan petani dan peternak dari Blitar, Amran mempertemukan mereka dengan langsung membuat surat kesepakatan dengan Bulog sebagai perantara.

Turut hadir dalam kesempatan panen raya jagung ini, selain Menteri Pertanian Amran Sulaiman, turut hadir pula Aster Korem, dan anggota Komisi VII DPR RI, Viva Yoga Mauladi. Dari Lamongan, hadir Wakil Bupati Lamongan, Kartika Hidayati bersama jajaran Forkompinda Lamongan.


Amran berharap, petani jagung dan peternak ayam mandiri dapat menikmati masa panen raya jagung saat ini melalui mekanisme distribusi dam stok yang baik.

"Kami berharap para petani dapat mensuplai kebutuhan jagung peternak baik yang berada di wilayah Lamongan, maupun di kabupaten-kabupaten lainnya. Kami juga berharap Bulog dapat membantu menyerap jagung petani saat panen raya seperti ini, sehingga dapat menjadi buffer stock," ujar Amran.

Sementara, melihat melimpahnya jagung di Lamongan saat panen raya seperti ini, Amran bahkan menambahkan bantuan bibit jagung untuk Lamongan di tahun 2019 dua kali lipat dari tahun lalu.

"Bantuan tahun ini berani kalau dikali dua dari jumlah bantuan tahun lalu? Supaya dari Lamongan bisa suplai kebutuhan peternak Blitar? Tahun ini jadi 20 ribu paket dengan pupuk," jelas Amran.

Sebagai langkah konkret memberi kepastian pasar pada petani dan memenuhi kebutuhan akan jagung peternak ayam Blitar, Amran secara spontan berinisiatif membuatkan kesepakatan antara kedua Kabupaten. Kesepakatan pembelian jagung ini akan menjembatani keduanya, dengan Bulog berada di tengah untuk mengatur penyerapan kagung dan pasokan dari Lamongan ke Blitar.

"Ini model baru, nggak usah pulang ambil stempel. Kertas kesepakatan ini tolong masing-masing dibawa pulang. Traktor dan dryer kami bantu kirim ke sini, hasilnya kirim ke Blitar," jelas Amran.

Di Lokasi yang sama, Wakil Bupati Lamongan, Kartika Hidayati menyampaikan, panen jagung yang dilakukan petani saat ini adalah sebagai wujud syukur karena musim panen telah tiba.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian karena petani kami pada tahun 2018 telah banyak dibantu untuk mengembangkan jagung di wilayah kami," ungkapnya.

Kartika menyebutkan, Pada tahun 2018, Kementan telah memberikan bantuan berupa: UPPO (Unit Pengolah Pupuk Organik) sebanyak 17 unit senilai Rp. 2,5 Miliar, Dryer UV sebanyak 10 unit senilai Rp. 1,87 Miliar, Rice Milling Unit (RMU) modern sekitar Rp. 500 juta. Laporan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan memperkirakan panen jagung di Kabupaten Lamongan hingga pekan ketiga Februari 2019 seluas 11.395 Ha.

Titik lokasi panen di antaranya di Kecamatan Modo, Bluluk, Ngimbang, Sambeng, Sukorame, Mantup dan Solokuro. Luas lahan jagung di Kecamatan Modo sendiri 1.627 Ha yang dimiliki oleh beberapa kelompok tani dengan rata-rata kepemilikan 0,5 ha per orang. Sedangkan luas hamparan jagung di lokasi panen saat ini mencapai 496 Ha. Harga jagung di tingkat petani saat ini untuk tongkol berkisar antara Rp. 2.000 - 2.200 per kg, pipil basah Rp 3.500 - 3.800 per kg dan pipil kering Rp 4.800 - Rp 5.000.

Saksikan juga video 'Panen Raya Jagung di Jawa Tengah, Tolong Setop Keran Impor!':

[Gambas:Video 20detik]



Impor 100.000 Ton Jagung di Akhir 2018, Mentan: untuk Peternak


(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed