Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 06 Feb 2019 18:15 WIB

Mengenang Kembali Peran Pak Pos di Masa Jayanya

Sudrajat - detikFinance
Foto: Dok. PT Pos Indonesia Foto: Dok. PT Pos Indonesia
FOKUS BERITA Polemik Gaji Pak Pos
Jakarta - Isu seputar Pak Pos menjadi sorotan hangat beberapa hari terakhir. Adanya penundaan gaji hingga tuntutan agar direksi PT Pos Indonesia (Persero) mundur banyak menghiasi pemberitaan.

Melihat ke belakang, Pak Pos pernah memiliki peran penting bagi kehidupan, khususnya dalam soal surat-menyurat. Karena memiliki peran penting, tak jarang Pak Pos sendiri menjadi sebuah inspirasi bagi banyak orang, tak terkecuali oleh musisi.

Contohnya, ketika Pak Pos dijadikan sebuah lagu oleh band legendaris asal Inggris, The Beatles.

Please, Mister Postman, look and see / If there's a letter, a letter for me / I been standing here waiting, Mister Postman


Tak cuma John Lennon dan The Beatles yang pada 1963 merilis lagu 'Please Mister Postman' untuk menggambarkan peran Pak Pos dalam menjembatani urusan cinta. Pada pertengahan 1980-an, Vina Panduwinata pun punya lagu bertajuk 'Surat Cinta' untuk menggambarkan peran Pak Pos.

Hari ini ku gembira / Melangkah di udara / Pak pos membawa berita / Dari yang ku damba

Demikian pembuka lagu 'Surat Cinta' ciptaan Oddie Agam dan aransemen musik oleh Addie MS itu.


Pada masanya, surat cinta boleh dibilang satu-satunya media primadona untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayang kita pada seseorang. Lewat kedua lagu itu juga tergambar kiprah Pak Pos pada masanya.

Ketika era digital datang, nasib bisnis pos langsung berbalik 180 derajat. Perusahaan pos dari negara adidaya Amerika Serikat (AS), United States Postal Service (USPS) menjadi salah satu korbannya. Kinerja mereka terus memburuk dan didera kerugian miliaran dolar.

Berbeda dengan UPS, perusahaan pos Jepang termasuk yang cekatan bersiasat di era digital. Pada 2015, Japan Post Holdings berada di peringkat ke 38 dalam daftar Fortune 500. Perusahaan ini mencetak pendapatan hingga US$ 129,7 miliar dan laba US$ 4,39 miliar.

Bagaimana dengan PT Pos Indonesia? Nasibnya nyaris seperti UPS. Perusahaan yang sudah berkiprah sejak masa kolonial Belanda ini tergolong lambat beradaptasi. Bisnis dasar mereka di bidang persuratan tergerus surat elektronik (e-mail) dan layanan kirim pesan singkat (SMS).

Sejak November 2015, Gilarsi W. Setijono yang mengomandani PT Pos mencoba berbagai diversifikasi bisnis agar perusahaan itu tetap eksis. Sayang, sebagian pegawai (Pak Pos) sepertinya tak menunjukkan sinergi dengan baik.

Beberapa kali menggelar unjuk rasa, bahkan pernah melibatkan pihak luar. Hari ini, untuk ke sekian kalinya, sebagian Pak Pos kembali berunjuk rasa, mengadukan nasib hingga ke Presiden Jokowi.

(jat/fdl)
FOKUS BERITA Polemik Gaji Pak Pos
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com