Menteri Pertanian 'Amini' Bulog

Soal Impor Beras 250 Ribu Ton

Menteri Pertanian 'Amini' Bulog

- detikFinance
Kamis, 15 Sep 2005 15:37 WIB
Jakarta - Departemen Pertanian (Deptan) seakan seiya sekata dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) soal impor beras sebanyak 250 ribu ton. Dengan kesepakatan dua lembaga ini, maka DPR tampaknya tak punya alasan lagi untuk melarang impor beras."Pemerintah akan melakukan impor sejumlah 250 ribu ton beras sehubungan dengan tren harga beras yang naik dan adanya kenaikan BBM," kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono dalam rapat kerja antara dengan Komisi IV DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (15/9/2005). Komisi IV DPR RI sebelumnya berniat merekomendasikan pembatalan impor beras jika diketahui ada perbedaan data antara Bulog dengan Deptan mengenai stok beras nasional.Rencananya, impor beras sebanyak 250 ribu ton akan dilakukan secara bertahap dengan evaluasi untuk setiap tahapnya. "Impor ini dilakukan sebagai tambahan cadangan beras untuk menjaga kenaikan harga yang tidak terkendali atau melambung tinggi," kata Anton. Anton menjelaskan, saat ini stok beras di Bulog sebanyak 1,6 juta ton. "Itu sebenarnya masih cukup. Namun untuk mengantisipasi adanya spekulan yang menumpuk beras maka dilakukan impor," kata Anton. Idealnya, cadangan beras di Bulog sebesar 2 juta ton. Namun, menurut Anton, penggunaan beras impor itu harus tetap seizin Badan Ketahanan Pangan (BKP). "Karena beras ini hanya untuk berjaga-jaga, maka hanya boleh digunakan dengan seizin BKP. Apakah itu untuk raskin atau operasi pasar," ujar Anton.Anton juga menjelaskan, pada tahun 2004 rata-rata kebutuhan beras per kapita 141 kg per tahun. Total produksi beras tahun 2004 sebesar 56,4 juta ton. Untuk tahun 2005 terjadi penurunan produksi menjadi 53,008 juta ton. Perkiraan ketersediaan atau neraca pangan untuk beras diperkirakan masih bisa surplus 1,621 juta ton. Selama dua tahun terakhir Indonesia surplus dua juta ton beras.Untuk periode tahun 2005-2010 permintaan beras diperkirakan meningkat dari 52,3 juta ton menjadi 55,8 juta ton. Menurut Anton, bila produksi padi tidak ditangani secara komprehensif, maka tahun 2005 hinga 2010 akan mengalami pertumbuhan produksi yang melandai. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads