Pangan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam debat Capres kedua malam ini. Jokowi selaku petahana, dinilai sukses menjaga harga pangan, meskipun masih defisit.
Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan, selama ini Indonesia lebih banyak mengimpor ketimbang ekspor. Meskipun dia mengakui selama ini tingkat keamanan pangan cukup baik.
"Harus saya akui yang namanya food security, indeks keamanan pangan di era Jokowi membaik terus," ujarnya di Studio CNN tv, Jakarta, Minggu (17/2/2019).
Menurut Faisal isu soal pangan bukanlah semata-mata tentang swasembada. Dia mencontohkan Singapura tidak swasembada namun food security-nya paling baik kedua di dunia.
"Pengelolaan pangan sangat penting. Oke kita impor, tapi kalau impor berasnya jangan dilakukan pas panen. Justru waktu paceklik, jangan impor," tambahnya.
Faisal juga mengapresiasi karena pemerintah sudah memperbaiki data beras yang lebih mutakhir. Sementara hal itu juga dibutuhkan untuk komoditas pangan lainnya.
"Dibutuhkan strategi keseimbangan yang melindungi dan memberdayakan petani, dan juga agar konsumen tidak membeli dengan harga yang terlalu mahal," tambahnya.
Dari sisi harga dia menilai harga pangan di era Jokowi cukup stabil. Meskipun beberapa komoditas ada yang tinggi.
"Secara umum harga pangan stabil, walaupun untuk beberapa jenis pangan stabil tinggi. Jadi misalnya harga gula stabil Rp 12,500 tapi dibanding harga internasional Rp 6.000. Stabil di mahal. Untuk kedelai cenderung harganya turun di pasar internasional," terangnya.
"Kemudian memang misalnya harga cabe rawit bisa Rp 300 ribu, tapi itu hanya seminggu saja abis itu turun lagi. Ini harus dikelola. Serap semakin banyak hasil panen petani untuk semakin cepat diolah," tambahnya.
Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan, selama ini Indonesia lebih banyak mengimpor ketimbang ekspor. Meskipun dia mengakui selama ini tingkat keamanan pangan cukup baik.
"Harus saya akui yang namanya food security, indeks keamanan pangan di era Jokowi membaik terus," ujarnya di Studio CNN tv, Jakarta, Minggu (17/2/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Faisal isu soal pangan bukanlah semata-mata tentang swasembada. Dia mencontohkan Singapura tidak swasembada namun food security-nya paling baik kedua di dunia.
"Pengelolaan pangan sangat penting. Oke kita impor, tapi kalau impor berasnya jangan dilakukan pas panen. Justru waktu paceklik, jangan impor," tambahnya.
Faisal juga mengapresiasi karena pemerintah sudah memperbaiki data beras yang lebih mutakhir. Sementara hal itu juga dibutuhkan untuk komoditas pangan lainnya.
"Dibutuhkan strategi keseimbangan yang melindungi dan memberdayakan petani, dan juga agar konsumen tidak membeli dengan harga yang terlalu mahal," tambahnya.
Dari sisi harga dia menilai harga pangan di era Jokowi cukup stabil. Meskipun beberapa komoditas ada yang tinggi.
"Secara umum harga pangan stabil, walaupun untuk beberapa jenis pangan stabil tinggi. Jadi misalnya harga gula stabil Rp 12,500 tapi dibanding harga internasional Rp 6.000. Stabil di mahal. Untuk kedelai cenderung harganya turun di pasar internasional," terangnya.
"Kemudian memang misalnya harga cabe rawit bisa Rp 300 ribu, tapi itu hanya seminggu saja abis itu turun lagi. Ini harus dikelola. Serap semakin banyak hasil panen petani untuk semakin cepat diolah," tambahnya.











































