Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Feb 2019 19:10 WIB

Jurus Pos Indonesia Bertahan di Ambang Kematian

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Kinerja keuangan yang terus merugi karena telat melakukan transformasi atau menyesuaikan diri dari perubahan teknologi menjadikan Pos Indonesia harus melawan kematian.

Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono mengatakan masih ada beberepa jurus agar perusahaan pelat merah ini tetap eksis. Yang pertama adalah transformasi budaya kerja SDM (sumber daya manusia).

"Makanya tidak boleh menyerah kalau kita perlu berubah dan perlu bergerak cepat. Ini tidak boleh mundur semangat untuk mengubah ini harus dipertahankan tidak boleh kalah, tidak boleh menyerah," kata Gilarsi saat berbincang dengan detikFinance di kantor Pusat PT Pos, Jalan Banda, Bandung, Senin awal pekan ini.

Transformasi selanjutnya, adalah dilakukan pada bisnis model, proses bisnis, hingga investasi infrastruktur.


"Bisnis model kita sudah berbeda dengan masa lalu, di mana yang namanya Go-Jek, Grab bukan kurir tapi faktanya mereka memberikan layanan untuk kurir industri, mereka pemain logistik," jelas dia.

Ketiga, menerapkan transparansi dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh Pos Indonesia. Menurut Gilarsi, poin ini sulit diterapkan dan membutuhkan sinergi yang baik antara manajemen dengan seluruh pegawai. Keempat, efisiensi biaya produksi.

Kelima adalah mentransformasi anak usaha, yakni PT Pos Logistik Indonesia dan PT Bhakti Wasantara Net (BWN). Gilarsi menceritakan kedua anak usaha tersebut kini sudah membukukan profit dari yang sebelumnya tidak pernah untung.


"BWN itu sejak didirikan sampai 2017 tidak pernah profit, 2018 paling tidak membukukan profit Rp 13 miliar, dengan posisi buku yang sehat, ini kita lagi transformasi menjadi semacam fintech-nya Pos," jelas dia.

Dengan jurus-jurus terbut, Gilarsi masih optimistis bahwa Pos Indonesia yang memiliki segudang masalah masih tetap bisa eksis.

"Jadi upayanya sekarang bagaimana membesarkan anak untuk supaya capable paling tidak mensubsidi induk. Kelihatannya ini sangat promising, ini yang membuat saya yakin i think we can do this," ungkap dia. (hek/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com