Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 22 Feb 2019 18:13 WIB

Ancaman Serbuan Barang China di Balik Berkembangnya Unicorn RI

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari
Jakarta - Pemerintah diimbau untuk mengantisipasi serbuan masuknya produk-produk dari China. Sebab di era kecanggihan teknologi arus masuknya produk China bertambah yakni melalui e-commerce di mana sebagian telah menjelma menjadi perusahaan rintisan (start up) raksasa dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar atau biasa dikenal sebagai unicorn.

Serbuan barang dari China juga telah menghantam perdagangan RI. Pada Januari 2019 defisit neraca dagang RI dengan China mencapai US$ 2,43 miliar. Di bulan itu neraca dagang RI defisit defisit US$ 1,16 miliar.

Guru besar ilmu ekonomi sekaligus peneliti senior INDEF Didik J Rachbini menilai, serbuan barang dari China melalui e-commerce ke depannya akan semakin besar. Untuk itu pemerintah seharusnya mengambil langkah antisipasi.

"Terkait dengan unicorn atau ecommerce, yang dampaknya ke depan lebih hebat dan cukup berbahaya," ujarnya dalam seminar online Jurnalis Ekonomi dan Peneliti INDEF, Kamis (22/2/2019) kemarin.

"Pemerintah belum mencegat secara baik arus inflow barang seperti ini lewat e-commerce," sambung dia.


Mungkin, lanjut Didik, pemerintah masih ragu atau belum menyadari adanya bahaya defisit perdagangan yang akan membesar. Apalagi saat ini ada ASEAN-China Free Trade Area yang membebaskan pajak barang yang masuk. Indonesia menjadi salah satu anggotanya.

"Prospek defisit berganda karena dipicu oleh arus modal keluar lewat akun pendapatan primer," tutupnya.

(das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com