Bicara Perdagangan RI-Australia, Mendag: Impor Tak Haram!

ADVERTISEMENT

Bicara Perdagangan RI-Australia, Mendag: Impor Tak Haram!

Aji Kusuma - detikFinance
Selasa, 05 Mar 2019 16:01 WIB
Foto: Aji Kusuma/detikcom
Salatiga - Pemerintah Indonesia-Australia menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/ IA-CEPA). Sesuai rencana, perjanjian ini akan berlaku pada akhir 2019.

Ditemui usai memberi kuliah umum Bussines Plan National Festival 1.0 di UKSW Salatiga, Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita, mengaku tak perlu ada ketakutan terhadap perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dengan Australia itu.

Melalui IA-CEPA, Indonesia akan mendapatkan fasilitas 100% bebas bea masuk ke Australia. Sementara, secara bertahap, Australia mendapatkan bebas bea masuk ke Indonesia sebesar 94%.


"Sejak dahulu kita impor, kalau tidak impor mana bisa ekspor, ini hukum supply and demand. Kalau kita tidak membuka diri, hancur ekonomi kita," jelas pria yang akrab disapa Enggar itu kepada detik.com, Selasa (5/4/2019).

"Impor tidak haram, ini banyak manfaat daripada mudharatnya. Misal, kita dapat prioritas untuk impor hybrid car, electric car dan juga di bidang pendidikan kita vocational training, dan tahun ini kita dapat 4.200 working visa, artinya masyarakat bisa holiday sekaligus bekerja di Australia, tolong hal itu juga dihitung," imbuh Enggar.

Enggarr tidak menampik adanya impor daging sapi dan kerbau di Indonesia, bahkan ia menyatakan kualitas daging luar negeri lebih baik dan harganya murah.

"Daging sapi dan kerbau kita impor, kalau tidak berapa harga tingginya?, kemarin tertinggi Rp 130 ribu, lalu kita impor daging dari India, harganya Rp 80 ribu, lebih sehat, lemak lebih sedikit, ingat ini hukum supply and demand," tegas Enggar.


Enggar berharap adanya perjanjian itu sebagai pendorong nilai pertumbuhan ekspor. Melalui rapat kerja tahun ini, Enggar menargetkan peningkatan ekspor melalui penandatanganan kesepatan dengan APDAG dan ITPC.

"Yang jelas jika tahun ini 6,5%, setelah penandatanganan ini tidak boleh ada dibawahnya. Saya akan kumpulkan APDAG dan ITPC saat raker Kemendag nanti,"tandas Enggar. (hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT